Showing posts with label free writing. Show all posts
Showing posts with label free writing. Show all posts

Sunday, January 20, 2013

Wangi Hujan

Terkadang hujan punya wangi. Bukan wangi angin atau wangi tanah. Sesekali ia punya citranya sendiri. Wangi hujan.

Ini sejak semburat jingga di penghujung biru langit pagi terpaksa membuatku kembali melantunkan nada-nada melankolis, sebuah soundtrack yang tiba-tiba muncul. Memaknai bahwa peristiwa dan deret-deret pemaknaannya terlalu tinggi untuk disentuh sebuah kehinaan semacam diriku. Memaknai bahwa terkadang hatiku seperti kaca yang tak dapat memantulkan cahaya, sekedar mampu untuk pecah. Terkadang hatiku semacam hujan yang tak dapat menyuburkan, sekedar basah. Ya, terkadang hatiku seperti jingga di pengujung biru langit pagi, salah tempo, lukisan pinggiran.
Kaca yang hanya mampu pecah atau hujan yang sekedar basah. Bukan kaca jika tidak memantulkan cahaya, bukan hujan jika tidak menyuburkan tanah. Bukan salah jingga jika ia jadi lukisan pinggiran, bukan tentang salah tempo. Sekedar salah redefinisi, salah memaknai, katanya, itu wajar karena perspektif manusiawi kita begitu terbatas. Ah, ia begitu bijaksana.
Namanya air dan transliterasinya turun ke bumi. Mengantarkan atau diantarkan, hujan tak pernah tahu redefinsi dirinya, bukan? Sebab ia telah melalui sebuah konveksi panjang kesejarahan hidupnya. Menjadi dirinya, lalu menjadi bukan dirinya. Dari air menuju air yang jatuh dari langit.
Berperan, mengantarkan atau diantarkan. Bukan lagi sebuah dilematisasi perasaan tapi konveksi alam, keberlangsungannya, perwujudannya.
Entah, jadi dirinya atau tidak. Hujan tetap selalu punya wangi, wangi hujan. Wangi kegelisahan.
Sebab pada tariannya ia kembali pulang menuju yang bukan rumahnya. Sebab pada basahnya ia mencari makna menemui yang bukan kenalannya. Setulusnya keikhlasan yang melumer membuat kaku rasa-rasa. Hujan telah lama lupa dimana rumah dan siapa saudaranya.
Seperti dakwah siyasi, diseret-seret tribulasi faktual. Sementara mereka bilang ini dan itu sudah beres. Seperti nalar siyasi kontemporer, jokingnya. Sementara mereka bilang, "nanti kami syuro-kan dulu."
Sialan.

Saturday, January 12, 2013

Wangi angin

Wangi angin. Mungkin kasar bila kita memulai sesuatu dengan mengeluh. Bahwa terkadang rintik hujan bisa jadi begitu tajam dan kita terlupa bahwa ia telah menitik basah. Melupakan hakekat keberadaannya karena sensasi yang dibawanya.
Aku masih ingin berdialektika. Masih ingin begitu jauh memahami. Tentang wangi angin dan hujan yang merintik.

Bahwa paradigma umum itu bukanlah seumum yang orang-orang katakan tentangnya. Aku dan kau, dapatkan tulisan ini dengan berbeda. Membaca huruf-huruf hijaiyah lewat aktualita-aktualita yang berbeda. Tidak sampai hati menimbang-nimbang putusan ilmiyyahnya.

Bahwa membawa dan dibawa. Bahwa meminta dan memberi. Kadang kita dibawakan sebuah pembawaan. Sebuah kepalsuan, sebuah klaim, kekosongan pemahaman. Kadang kita memintakan pemberian. Asing terhadap kefakiran diri sendiri. Sebab pada titik itu, hati yang kotor lupa darimana ia berasal.

Ah, aku jadi merasa begitu hinanya. Ah, aku jadi merasa begitu kerdilnya.
Ah, aku jadi lupa bagaimana derivasi-derivasi itu merangkai sebuah kronologi.

Serumitnya wangi angin memberikan ruh pada hujan yang merintik. Semoga menjadikan hikmah begitu mudah untuk disemai.

Sunday, February 5, 2012

Tercengang

Kumulai setiap goresan dengan satu kesakitan. Bahwasanya hitam yang mencintai putih adalah tanda telah menistainya pula. Ketika kumulai setiap goresan dengan penghabisan. Sebabnya tinta akan sirna usai dibenamkannya ke laksa cita dan akan patah batangan usai diserahkannya semua dayanya. Ya, aku memulainya, atas sebuah dilematika yang tak tergambarkan oleh pesona. Seketika itu merana, sebab goresan dengan penistaannya, meracau demi akaran logika bahwa ia juga jadi penghabisan permulaannya.

Entah, bening yang dirajut di sepersekian inchinya saat harus memilih dunia atau keutuhan dirinya. Entah, laut yang meringis di setiap pergerakannya saat harus bercita-cita mengenai tenang atau kematian pribadinya. Dan aku bungkam, menerima sakit dan penghabisan permulaaannya, di tiap selipan kata dan keragu-raguannya.

Sempurna, bukankah cemeti jadi alat untuk melarikan diri? Ketika sampai di hatinya, sampai jauh pergi fungsi presisi dari peruntukkannya. Sempurna, bukankah tujuan jadi alat untuk menyembunyikan hati? Ketika sampai di kepergiannya, menyalip silang dalam perlombaan putarnya dengan relevansi zaman. Ah, setia, rumusan macam apalagi dia?

Maka akhir yang mengagumkan jadi penerimaannya atas perujungan sakit dan penghabisannya, bukan?

Friday, December 23, 2011

Baru aku tahu

Ternyata cinta itu tali temali yang mengalir tanpa putus, dirajutkan untuk menghimpun hati yang beranak pinak jadi krisan merah saga, berani membara dan menunjukkan kekuatannya.
Ya, mungkin aku sekarang mengerti bagaimana cinta itu bercerita tentang dirinya. Bahwa putusan hadirnya adalah karena cinta sebelumnya. Merambat dan menanamkan akarannya di lahan kanan kirinya.

Maka katanya, tak anehlah bagi seorang nabi membenci kemusyrikan dan mencintai kesholehan. Sebab asal cintanya dari Allah azza wa jalla, digetarkan sebagai sebuah simultansi jurisprudence yang mengelebat dalam setiap tangkapan indera dan rangkaian pemikirannya, pemaknaannya.
Aih, aku mulai mengerti.

Maka seperti itu pulalah yang terjadi sebenarnya. Disuruh mencintai seseorang lalu aku mencintainya. Begitu saja, kan? sederhana. Aku mendefinisi lalu terdefinisi.

Saturday, December 17, 2011

Renvoi

Apa yang kira-kira terpikirkan olehmu atas lembutan awan terbang yang hitam menghunjam. Seakan kau yakin di baliknya ada hujan, pula potensi getaran petir dan positif negatif muatannya. Sebab kini ia tak merasa lagi sebagai dirinya. Bagian dari entitasme dan frekuensi lamda mutlaknya. Warna-warna akhir dari cahaya, katanya akhiran dari tak ada cahaya. Awan yang hitam menghunjam, meracau dalam bait kelam soal malam, tak ada lagi yang lainnya.

Maka narasimua tentang bintang-bintang adalah kedurhakaan paling dalam yang sampai-sampai jemarimu mendustakan petaka di balik tersungkurnya awan-awan yang menitiskan hujan. Menghitung detak, detik dan ketukan jadi simfoni penuh arti. Awan hitam yang jadi dirinya. Bukan narasimu yang serta merta membuatnya terbang sebagai langit-langit, langit paling langit, langit-langit.

Temukan jatidirinya sebagai serpihan yang berarak dan menghilang. Untuk berpisah dan menemukan medium eternitasnya. Untuk sempurna dan mengalirkan uapnya. Untuk jadi dirinya. Untuk berpisah dan menemukan yang lainnya.

Saat bilangan kaca menampilkan sosok pudar warnanya. Dan tak ada cahaya, panjang lamda dari ketiadaan sempurnanya prisma merah senja, warna-warna akhirannya, berbaur jadi dirinya.

Aiiiih, gila durjana.

Sesempitnya nalar mempertalikan paradoksal dan dilema kolosal. Sejauhnya nuansa menyembuhkan fakta dari otoritas independensinya. Tanpa nyawa, berdiri jadi dirinya. Tanpa hikmah, berarak untuk menghilang dan menemukan medium eternitasnya, begitu saja. Tanpa hati, tak temukan warna-warna akhiran cahaya. Kerdil mendefinisi hitamnya. Sendiri merangkulkan lembutannya. Parsialisasi komunal frekuensi panjang cahaya. Di tepian. Untuk berpisah dan menyempurnakan.

Sunday, December 11, 2011

Little Sweet Mischievous Girl

by : Alfajri

Never be so hard to fix what you willing for and I used to be like me, whom the red story never end by time.
As you told me that we are would not be unity.
As you bought me some 'nutrition' of story of the other country.
As I listen the ring on your phone, I was getting stuck with my own. 
What you said, was just about me as a Non-moral symbol on your luxury word.
Trust me. It work.

As the wind sent this song to my heart. 
Like a bird swing, willing to win the wind' direction.
Huft. Do am I?

Thursday, December 1, 2011

Never say I miss

Perfectly! I have no time to show something I'd wanted to. You finally touched my heart with all I can't definitely finding the line of definition for it. I was me, a friend and a sweet. I was me, people love me like I do. We are in love just like december spread out the snow on grass.. meaningful. With no shine. With no air to make some sin. I was me.


Unfortunately you wonder for so many time while I have no time. And I curse the mobile window on your car, passionately missing a mysterious sign. On a very very incredible condition which I must take the one of two.. and three.. and four? You was never said you must. You wont.

Right, I know it now. You are never be so wise like I miss.

Monday, November 28, 2011

Ion and on

Kebanyakan orang suka menerbitkan dikotomi-dikotomi yang menurutnya bisa menyelsaikan masalah. Atas sebuah dasar nalar sistematis dan struktural, seakan poin-poin tadi menjadi penjabaran intelektual yang wajib dihafal dan dibukukan.

Kemudian kita sama tahu apa yang terjadi selanjutnya. Ya, poin yang satu tak akan sama dengan poin lainnya dan perhubungan antara keduanya hanyalah berdasarkan suatu konteks pendekatan kualifikasi dan function atau orientasi tertentu. Kita terjebak. Sebab dalam suatu rumitansi yang menyebalkan, yang satu dan yang lainnya adalah ordinat tanpa subordinasi dan sejatinya satu dengan perbedaan. Kita menggila. Bahwa kemudian terkadang kita harus begitu teliti menggunakan perspektif beda dan sama. Entitas klausul dan matematisnya.

Sekarang coba kita pikirkan makna di balik beragama dan bermoral. Tidak, di suatu kali moral yang di ajarkan orang-orang barat kurang akal itu dibenturkan dengan agama yang kau punyai. Tidak, ah... begitu busuknya. Sebab kini kau mulai berani berkata bahwa bermoral bisa cukup tanpa agama. Kau sudah baik-baik saja. Tidak, bahwa bukan pertama kali untuk moral, agama itu diturunkan kepada Muhammad SAW.

Aku benci mengatakannya. Tapi akan kuperangi setiap poin dikotomi ganda yang sengaja diciptakan untuk menyesatkan literan salaf para 'ulamku.

Tuesday, November 1, 2011

Prime Frame


Tanpa lelah, sebenarnya sebuah frame mengukur sistematisasi prestisiusnya setiap kali dibangun nuansa lelah di selipan kacanya. Dan ia berbicara tentang suatu prime dari frame beningnya. Frame kaca yang patah menggores luka, sarkastik, keras, sadis. Alur melankolis bagi tawanya yang sumringah. Memunculkan sebuah kuasa nalar yang meletuskan energi sebagai pribadi, sentrisme diri. Prime frame, primus interphares.

Saat interval nada-nada hidup menyemai bulir hikmah sebagai tanda. 

Sejatinya primus interphares menyuarakan rangkaiannya sebagai sasana cemerlang memukau. Hingga sampai jamur hilang di metafora dilematika berbaur panas dan lembabnya udara. Sebuah prime frame, primus interphares.

Ini kosakata dan desire yang nyata, dilunakkan dalam basa-basi dan tali temali jari-jari hati, buku-buku lini diplomasi yang terbang tinggi. Lalu kosakata jadi terlembaga dalam loker-loker mekanisme juang dan pikiran simpulnya. Lalu desire jadi lorong-lorong kubus dari batu yang disusupi niatan memengaruhi cahaya-cahaya, api dan lilinnya. Sebagai prime frame, primus interphares.

Berdiri menjejak saat turunan kaca dan integritas pionnya jadi tuan-tuan yang membelakangi empirisme data.

Ini soal prime frame. Mengalirkan warna sekalipun sejatinya ia tak tahu bau warna yang dihadapannya. Mendefinisi, terdefinisi. Jadi definan nutrisi hati yang menyeret dilematika pribadi, sentrisme diri. Prime frame, primus interphares.

Sarkastik, keras dalam wujud dan medium eternitas kepahamanku. Pion primus interphares.

Thursday, October 20, 2011

Perfection

Sudah lebih baik. Akan menjadi suatu hal yang lebih berharga bila kita menyadari bahwa kesempurnaan itu menghargai ketidaksempurnaan. Atau rupa-rupanya kau hanya perlu memahami bahwa dunia memang tak lebih dari sekedar gurauan belaka. Maka bila aku jadikan simpulan nalarnya pada fakta bahwa aku ingin sempurna, tentu aku telah keliru mengejar sesuatu yang tak pantas ku kejar.

Bahwasanya aku bukan liliput yang hidup di negeri jamur dan rerumputan. Bukan pula jangkrik yang mengais kotom klasif invertebrata, dianggap ia tak punya darah hanya karena cairan tubuhnya bukan berwarna merah. Bahwa aku bukan mereka yang menyongsong pagi dalam bacaan immoral soal penentangan patriarkhi. Aku sekedar akuisisi ekstase perimbangan hatiku.

Maka biarkan laut tetap menari dalam siklus gelombang pasang dan surutnya, agar seketika lumba-lumba yang muncul tenggelam tak takut akan pijaran lampu-lampu layar manusia. Agar nantinya tetap bersuara, menghidupi dirinya dalam asasi kepribadiannya. Bersyukur.

Atas nyala-nyala lilin di tengah gulita yang tak seberapa. Pula hati yang merana akibat perfeksionisme semata. Sehingga terbit matari dari barat ke timurnya, bukan angin yang jadi indikatorisasi arah hujan lembab dan kering. Di persetujuan pembacaan para ahli fisika dan metereologi, kita berserah pada dudukan ilmu yang tak sesempurna itu juga, kan.

Tuesday, October 11, 2011

Cerita

Dan dalam setiap degupan aku merayu angin untuk menerbangkan massa tubuhku ke purnama. Agar tergapaikan bintang-bintang yang jadi medium ketidakberdayaan harapan manusia. Agar terhanyutkan alir nuansa yang jadi perpecahan antara kuasa tangan dan kaki. Agar aku kembali.
Saat sinarannya tak lagi menemani dan aku jadi jalang yang menenun pukat sendiri. Diletuskan ke dalam-dalamnya lautan, mematikan. Diriku.

Jadi ceritanya aku. Jadi ceritanya kamu. Jadi ceritanya kita dan semua. Jadi bukan dia. Atau mereka. Di luar diriku dan kau. Di luar kita. Di luar diriku. Kau. Kau yang sejatinya bukan mereka pula bukan aku dan kita.

Sebab perpanjangan titian ada di benak masing-masingnya benda. Entah sampai atau tidak, diselipkan antara premis-premis paradoksal yang mengerikan. Malam ini, aku  memang bukan lagi yang seperti itu.
Sebab aku belum lagi dewasa, menjadikan segalanya serba bisa, padahal para cendikia benar nyata punya banyak keterbatasan juga. Apa jadinya dunia bila tanpa ulama' fiqh dan tulisan-tulisannya.

Tuesday, October 4, 2011

Appetite


I just missing. The things I’ve to found even I don’t ever needed.

I just falling. When the stars call the sweetest moment of raising.

And I can’t stand on my wanted-to-be. I just myself.

So don’t ever judge me on the way you hate me.

So don’t ever smile on the dark you feel you lost your mine

It’s not the purple song you could tell the world you miss it.

And it just so hard to know that the picture was listen the air on it.

Then I’m a loser whom the blood turn to be some reason of your aim.

What an appetite, what a never-be-clear-appetite.

Kau

Jadi begini, disini kau berkata begini lalu tinggal landas mengenangku sendiri. Jadi begini, disini kau memangku fajar hingga gemilang cahaya bertabur resapan intan angkasa. Sempurna, kau jadi begini.

Yang begininya seperti ini dan itu, cuma di perasan terakhir hippocampus yang menyeret panah-panah sentrifugal yang berlari ke ujung dunia, mengejarnya sampai jatuh saup jauh di hatinya. Ah, kau merajuk manja lagi. Mengapa tak dijadikan sepuh basi atas emas yang tak lagi mempan disebut emas, atau debu yang pantasnya menohok jambu-jambu, rambu-rambu bambu. Sempurna, kau jadi begini.

We were born for death

Katamu, kata-katamu begitu jadi begitu begininya. Seperti kau jadi tahu segalanya. Tentang dirimu. Tentang aku.

Katamu, kata-katamu begitu jadi begitu begininya. Seperti kau jadi cenayang di prosa-prosa cinta yang tak terdefinisikan bahasa manusia. Tentang aku, apakah dirimu.

Selepasnya pengadilan tata usaha negara kita membangun pion-pion kaca yang rapuh merana, kau tetap saja memainkannya. Sekarang jadi hancuran kotak hitam putih yang tak lagi membangun jiwa perkasa bila Laila ditemui Qais terkasihnya.

Saat Harry Potter mengetuk nada tongkat panjangnya, atau J K Rowling membuahkan hasil karyanya. Masing-masing kau dan aku punya diskusi rahasia di bawah selorok selimut kita. Sebelum ibumu atau ibuku datang dan memeriksa apakah aku dan kau sudah terlelap tidur. Kita berpura-pura.

Saat Gus Dur naik di pelantikannya tahun 1999, atau Amien Rais berdiri di tribun reformasi. Masing-masing kau dan aku punya janji setia di lelapan redup lampu belajar kita. Sebelum ayahmu atau ayahku mengangkat tubuh mungilku dan otak besarmu itu ke bawah selorok selimut kita. Kita jujur bercerita tentang segalanya.

Soal pusaka malin kundang waktu mengarungi samudra. Kau dan aku tak ingin jadi aku dan kau.

Pesona



Aku tak dapat menerka dengan leluasa. Tentang falsafah dugaanku yang paling asasi. Sebab prasangka ialah perkataan yang sedusta-dustanya. Pula bicaraku tak jadi vitamin yang menghindarkan aktivasi virus nalarku. Aku terpana.

Kini betapa ia riang gembira dalam rona bening wajahnya. Ah, bidadari surga. Kapankah kiranya katalisasi fana mengangkasa bersama tiupan sangkakala. Lalu jadi definan nuansa yang tak terdefinisi. Akhiran yang menyongsong tanpa akhir, di batas terminal yang tak ada lagi putar parkir.

Bahwasanya fir’aun mengakui juga kekeliruannya waktu garam menempel di batasan tenggorokannya. Pecahan pangkal dua udara di persemayaman gulita, terlambat sudah. Sebab kini ayat retoris itu sembilu mengiris jantungku, kita telah tahu yang pertama lalu mengapa tak belajar untuk transformasi lanjutannya?

Iya, manusia memang serba salah pula jadi serba benarnya. Kala sampai dentum tragedi atas darahnya, terhenti pula asupan oksigen ke otaknya, jadi gila. Kesana kemari mencari menang dan kalah. Lalu aku Cuma bisa kembali terpana.

Terpana, dibidik naluriah sinisme jembatan panjang yang melebar kemana-mana. Lewat mana?

Iya, T-E-R-P-A-N-A. Cuma menganga membasahi dengan sisa-sisa yang tersisa dalam intrik proporsional soal merah. Ini garisannya, usai itu ia bisa jadi merah-putih atau merah-kuning-hijau. Terserah kau.

Terkaanku memang tak dapatkan nada yang dimaksudkannya dengan seksama. Terlebih lagi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Berkhayal saja, sebab merdeka bukan lagi tentang undang-undang dasar 1945. Dan akuisisi material dustanya jadi asasi formil ekstase yang luarbiasa. Merajalela.

Baiklah, kini ia tak ingin disebut kupu madu dan kupu-kupu sayap merdu. Sebab manisnya bukan kecup glukosa di titipan simbol-simbol ganasnya. Ini lagi-lagi bukan tentang pola pintu stomata atau restorasi kromosom manusia yang 23. Dinamisasi. Dimana problematika jadi arogansi sosial yang membajak kerja-kerja pilot project sederetan rasi. Tanpa saksi.

Sehingga transporter waktu mengetukkan denyutnya dalam hitungan lima jari. Habis itu, pergi berlari. Bosan. Jadi sebuah paradoxal norm yang mencari pamit tanpa permisi. Dibebaskan, tutur kata tak lagi menuansa menghebatkan.

Lagi-lagi, jadi sejenis overdosis di penghujung perobatan keadilan yang basa-basi. Lagi-lagi, memang sakit yang sedusta-dustanya prasangka asasi. Caci maki.

Saturday, September 24, 2011

Honestly, is not you

Someone precious is a person you will never know why'd she/he could on that precious word. Someone precious is a mother or father whom the blood was on your atrium right now. Someone precious, maybe just somebody perfectly make you drowning on a missing. Someone precious? maybe... actually you do not have anyone precious.

Precious was the name mostly wanted in this world. It just a mean which concept a big accidentally tragedy which will always set you as the left out rubbish.

Honestly, is not you.

Thursday, September 22, 2011

Don't have to paid for everything except a thing!

By : Alfajri

We always in the big question symbol for what we have to done this time. I thought everyone have their rights to close or open their mind about that annual case of life. WE do the same things on our biologist part of us. We do the same things of our injection of a community, we talk each other, makes some funny the go with it.
Life was the lived out to feel alive on it. So on this spot, isn't it sooo brave to call our name for that live-the-life?

I have listen many Avril's song or Bieber, lol (honestly I said it as the truth what-being-happened-on-me).  And MCR? And Kort, and Click Five? exactly what a lol me.

That song was never hurt me as the life I feel hurted. Back on it, I just thinking that people acctually wanted to found their self on the other sound and drama. We just keep trying enjoy our life to be alive. As Shakespeare wrote on his paper, and as Monalisa spread out on canvas, our illumination of 'enjoy-our-life' was perfectly entering people on the more hurted it can be.

And I just.. nothing. I just thinking and the publishing. Honestly is not to show that I'm in but to perform that I'm in. Is that weird or something like that? I'd also always define myself as it. (laughing out laugh)
And I'm fine. So what life could bring - a copied of Avril's song on I will be - just what we could paid for it. It seems like 'ay!" what a pic me... Have your great day everybody! :)

Monday, September 19, 2011

Annual defense

Kadang kesombongan memang jadi momok yang begitu menjeramu dengan begitu hinanya. Liar menjamu di rumah-rumah setan-setan yang binasa terbinasakan. Jauh dari rahmat pula rahiim yang dimimpikan jejak kaki Hawa ketika diturunkannya ke tanah.
Aiih gila merajalela. Pula tak ada transliterasi bahasa mutlaknya. Yang kau pikir sempurna bagi tendensi kata-katamu waktu itu. Sebelum jadi bunga di tepian jelanta, lalu lalang ilalang terbang. Mengawan seadanya basi yang disegarkan. Pilihan.
Dan aku ingin pulang, sejatinya kepergian yang hanya jalan yang sampai di penghujung rantai. Dengan berwibawa tak membawa apa-apa.
Dan aku ingin pulang, sejatinya perjalanan hanya perginya induk di pagi hari. Dengan tenang tanpa risi bising suara siapa-siapa.
Dan aku ingin pulang, sejatinya datang ialah mengucap salam dan penuh senyum bangga orangtuaku. Walau tak begitu, walaupun begitu jauhnya dari mimpinya alam-alam nyata.
Biarkan mereka terkesan, terkesan dengan kosong binaranmu. Lalu kau bisa pulang tanpa apapun di sisianmu, tanpa pula suara dan senyum bangga itu.
Sebab biasannya tak lagi jadi seindah prisma mata air cinta. Sebab bengkoknya tak terluruskan di nyanyi belalang dan konser semut jangkriknya. Sekedarnya saja.

Wednesday, September 14, 2011

Detik

Detik menjelang pangkal leher detik berikutnya. Di usapkan di jemari kata gelisah nan berwibawa, ujarnya pelan mengiris. Begini, seorang sufi begitu liciknya menari dan membuat dosa sendiri. Begini, Ibnu Arabi tak pergi berperang bersama Muhammad Al Fatih Sang Pemberani.
Detik menjelang pangkal leher detik masanya. Di gulirkan sepanjang cerita indah si kata-kata gelisah nan berwibawa. Besok aku akan mati. Besok aku tak menemuimu lagi. Besok tapi besok tak akan kembali lagi. Untuk hari ini.
Detik menjelang pangkal leher detik selanjutnya. Di patahkan panah olehnya, dipukulkan hingga habis mengucur darah dari nadinya. Ah, detik. Detik ini.
Detik menjelang pangkal leher detik kesudahannya. Sejatinya titik pangkalku tak pernah ada udara menuju ke kepala. Sejatinya titik musnahku tak pernah ada darah menuju ke pelupuk mata. Tak demikian adanya.

"ketika tulisan lu bisa dipahami, pembaca yg ngebaca tulisan lu malah pergi gw ngebaca tulisan lu bukan buat di mengerti, karna gw nyadar, percuma gw maksain diri buat ngerti tapi ya karna itu, untuk tidak dimengerti tulisan lu dibaca tapi tetaplah bukan berarti dengan begitu tulisan lu kayak permen karet ya gak gitu" my 'sister', haha

Saturday, September 10, 2011

Frase satu bulan kemudian

Bunganya kuncup dimakan terik Jakarta. Lagi-lagi ungu pudar, terkadang aku pikir ia begitu kisut untuk dinikmati. Jauh dari saup jemari dan lusuh tanpa fantasi. Ia mau mati. Besok juga jatuh satu-satu. Tinggal satu. Bunga krisan yang berjamaah satu-satunya jadi satu. Hanya karena panas dan sapu debu merangas, tak sampai hati aku meminang jatuh gugurannya.Satu-satu perlahan jatuh jadi tinggal satu.

...the beginning - burn all poison

Mekkah, sebuah dimensi yang sempurna. Bagi rukuk dan sujudnya makhluk-makhluk fana. Dan aku terpana. Ketika Mekkah jadi bayang-bayang ingin yang merajalela. Disana dan disini. Kutemui ia. Ini setting yang begitu basi untuk ditarik hidangkan diatas meja kronik kisahku. Toh aku belum pernah juga kesana. Ah, aku, sekedar ingin berkata-kata saja. Kata-kata yang dimengerti oleh setiap hati. Sederhana saja. Merana, mulai tercerabut iman dari akarannya, sebuah nuansa yang perlahan tertawa ria di pinggiran warnawarna Aku yang merana Rasanya gersang dan hanya bisa bicara yang menyakitkan saja Tanpa kualitas Babak baru perenunganku, ditinggal mati sosok konkret sahabatku Aku marah, Tercerabut iman dari akarannya Jadi golongan orang paling lemah dan tak berdaya CUma bisa hihihaha saja Jadi pendusta yang setia, pada apa saja Tentang apa saja Dengan pemerintahan janna, dengan segalanya Dilaknati binatang pagi, siang dan malam Dan orkes sirkus mereka Ya, hinanya Aku, kan