Showing posts with label cerpen. Show all posts
Showing posts with label cerpen. Show all posts

Wednesday, June 19, 2013

Rumitansi

Tiupan angin sore kota Jakarta masih getir seperti yang ku kenal. Lalu lalang penjara jalanan di persimpangan Senen, Jakarta Pusat. Aku berdiri, seakan jadi bintik kecil yang kebingungan di tengah hiruk pikuk. Memegangi sebotol air minum ionic yang hampir kosong di tangan sebelah kanan. Menatapi langit. “Semoga hujan cepat turun…” bisikku.
            Sebab wangi hujan tak pernah sedatar wanginya yang sebelumnya. Setiap rintikan adalah organisme yang berbeda, identik namun bukan ‘orang’ yang sama. Setiap dari mereka adalah kecintaan. Tulus yang berbuah jadi kemurnian siklus kehidupan. Sebab pada tariannya ia kembali pulang menuju yang bukan rumahnya. Sebab pada basahnya ia mencari makna menemui yang bukan kenalannya. Setulusnya keikhlasan yang melumer membuat kaku rasa-rasa. Hujan telah lama lupa dimana rumah dan siapa saudaranya. Aku sesekali ingin jadi seperti hujan.
Menunggu mereka di pertengahan bulan Maret, saat banjir Jakarta baru saja tinggal landas, hujan melintas menunggu perhubungan siklus tahun depannya yang mungkin akan jadi lebih kacau lagi. Hujan di pertengahan Maret, sesederhana hujan bulan Juni yang arif bijaksana, kata Sapardi Djoko Damono, menahan dirinya, tak dapat menurunkan wujudnya. Aku sesekali ingin jadi seperti hujan. Kemarau.
            Siang tadi, aku baru saja mengambil sebuah titik paling gila dalam hidupku. Bahwa dengan satu goresan tinta, akulah rintik hujan yang tak akan pulang ke rumahnya. Mengakhiri setiap alir liquid-nya, untuk memulai kembali. Sebuah persetujuan gadai rumah. Menggadaikan rumah orangtuaku yang saat ini masih di Paris, tinggal di rumah teman masa kuliahnya, katanya.
            “Missy ! Little Miss !!” sebuah teriakan wanita paruh baya menyelip di situs pendengaranku. Di sebelah kiri, sebrang jalan, di pinggir pasar. Sore yang menguning, tanda polusi industri yang mengambang di awan-awan, tak ada hujan. Aku sama sekali tak menoleh padanya, menyebrang ke sebrang kanan, meninggalkannya yang mungkin mulai kelabakan masuk kembali ke dalam mobil sedan hitamnya, mencoba mengejarku untuk kesekian kali.
I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I
            Ia Cuma mahasiswi kurang terpelajar berumur enambelas tahun. Aku tidak pernah suka dengannya. Terlalu kekanak-kanakan, tapi dia bilang dia dewasa. Terlalu banyak merajuk, contohnya, dengan caranya mengurangi kuota pembelian kain di kongsi mitra yang sedang menaikkan harga. Sesekali, aku iri juga. Toh, perempuan itu punya rumah seharga 4 milyar. Tapi, seringnya, aku bersyukur, bahwa aku bukan dia.
            Sekarang wajah lusuhnya kembali menatapi kami satu-satu. Anak enambelas tahun yang jadi mahasiswi semester dua itu, sekarang sok jagoan mengomeli kami satu per satu. Sialan.
            Katanya, hitungan neraca akuntansi yang ku buat masih banyak salah dan kurang detail. Gila,
            “Benar, ada yang sempat ambil uang kasir buat beli dunkin donuts dulu? Saya mau hal-hal seperti itu tercatat juga disini, sekalipun satu rupiah”
            Mata sipitnya meruncing. Omelannya bukan hanya sekitar itu saja,
            “Bagaimana bisa, ini mitra kita sejak 5 tahun terakhir. Saya tidak pernah bermasalah untuk teken kontrak disini !” nadanya meninggi, mata runcingnya itu, memanah Dimas, PR[1] kami – yang 12 tahun lebih tua darinya.
            Semua menjadi tidak becus, di ruangan itu. Maka seperti biasa, buku-buku catatan kami penuh dengan focus-work-list yang menjadi akhir rapat penuh angkara murka itu. Focus-work-list. Kami berkali-kali menertawakan istilah itu saat jam makan siang atau sekedar momen kumpul selama berhari-hari sejak tahun lalu. Istilah itu dimunculkannya saat rapat pertama sebagai pimpinan pengganti ibunya. Anak itu, gosipnya, punya kendala bahasa, semacam autis. Tapi aku tak pernah tahu pasti. Kami tidak ada yang pernah berbicara secara personal dengannya. Begitu dingin, tanpa senyum, ya, kecuali ketika mengajari para shopkeeper baru menyambut tamu.
            “Baik, mari kita lakukan yang terbaik untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Saya tutup rapat kita. Wassalamu’alaykum,” ujarnya beku. Wajah langsatnya nyinyir tak berekspresi. Kami berdiri, melangkahkan kaki keluar dan berharap ia tak memantau hari ini.
I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I
            Mall Taman Anggrek masih sibuk membenahi rona-rona ramainya. Aku tak pernah suka berada disini. Berisik. Terlalu banyak urusan.
            “Mikirin apa Miss?“ sebuah suara yang kukenal kembali menyapa seperti biasa, dari belakangku, telapak tangan kanannya menyampir di bahuku.
Bu Ranti. Wanita paruh baya yang kemarin kutinggalkan di perempatan Senen. Wajahnya teduh seperti biasa, di balik bingkai kacamatanya yang berat itu, mata bulat kelopak besarnya menatapku ‘kasihan’ seperti biasa. Ia mungkin satu-satunya orang yang dapat kupercaya di dunia ini, kolega mama sejak 30 tahun lalu.
“Soal rumah, hehe,” ujarku sungkan, lalu menyambar lengan kanannya, “Ayo ke dalam bu,” memutus pembicaraan itu, melangkah menyebrangi trotoar yang 5 meter, masuk ke dalam pintu kaca.
………………………………
            Di balik pintu kaca ini bukanlah sebuah tempat yang kelewat mewah, biasa saja. Hanya sepetakan ruang berukuran 30x20 meter. Empat bulan yang lalu tempat ini disebut ‘butik’. Tapi sekarang papan nama itu sudah kuganti dengan istilah ‘The Boutique of Wed’. Ya, disini hanya ada gaun dan jas pesta pernikahan. Ya, ada yang lainnya, tapi tema ruangan ini, kira-kira hanya sebatas itu saja. Kami juga menyediakan jasa pendukung lain seperti tim rias, interior theme design, fotografi, makelar gedung, dan seterusnnya, semacam wedding organizer sungguhan. Anggapan bahwa hidup ini permainan dan kepalsuan, bagiku, banyak benarnya.
            Beberapa orang, secara menyakitkan pernah bergurau disini, di hari ketika papan itu di ganti.
            “Tau nggak kenapa bu Farikha sampai bolak-balik kawin-cerai tiga kali?”
            “Haha.. ya, kan gampang nge-organizenya, pake aja ‘The Boutique of Wed’ ahaha
            “Bukan gitu kali, ada juga kenapa ini ditegesin jadi WO ya karena emang yang punya suka kawin, hahahaha”
            Aku hanya berlalu, ibu kandungku, beliau memang sempat menikah dan bercerai, di luar pengetahuan mereka, bahkan lebih dari tiga kali.
I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I-I
            Aku tahu bahwa tidak ada satu-pun karyawan menyukai pimpinan pelaksana semacam diriku. Bengis, dingin, pemarah, katanya. Terutama karena mereka juga membenci mama. Itu wajar saja sebab dalam pandangan sebagian orang aku adalah anak tunggal tanpa ayah dan ibuku adalah janda yang suka keluar negeri dan menikah sirriy. Lengkapnya, sebagian besar karyawan disini adalah sebagian orang itu. Sekedar bahwa suhu kebencian itu, dapat dirasakan, kan.
Langkahku kembali terhenti, seseorang kembali menyampirkan tangannya di bahuku. Arfika, akuntan butik yang 8 tahun lebih tua dariku itu, wajahnya tergesa. Ia menatapku, berbicara tanpa kata, menggerakkan kepalanya ke belakang. Seseorang yang familiar kontan masuk dapat tangkapan retina mataku. Petugas gadai dari bank.
………………………………
            Kami berdua duduk berhadapan, seakan aku orang dewasa sungguhan. Bapak berperawakan tinggi besar itu tidak menyentuh cangkir kopinya sama sekali.
            “Ini tidak dapat diterima !” katanya tiba-tiba, meninggi. Seberkasan kertas dihamburkannya ke atas meja. Lingkaran merah di identitasku dan coretan di tanda tanganku itu, seakan membuatku menyadari segalanya. Sementara matanya terus mencoba mengintimidasiku dengan sempurna, menodong tanganku untuk membereskan dan mengangkat kertas-kertas itu.
            Tapi aku rupanya memang seorang bocah angkuh, bahkan dalam keadaan selemah ini. Aku hanya tersenyum meremehkan, menatapnya balik, mengintimidasi. Tanganku reflex menyilang dan mendukung aksi sinisku.
            “Anda lambat sekali menyadarinya, pak.” Jawabku sok pintar
            “Jadi kamu sengaja? Hei ! Saya bisa saja dengan serta merta mengambil toko dan rumah kamu atas nama bank ! ”
            “Saya rasa anda mengada-ada. Perjanjiannya kredit modal, bukan gadai, lagipula, toko dan rumah saya bukan jaminannya. Dengan tanda tangan saya?” aku kembali tersenyum penuh kemenangan. Suhu ruangan penuh angkara-murka. Tapi aku tidak perduli, aku akan menang dalam peperangan ini.
………………………………
            Sebenarnya sore ini aku baru menyadari, sederhana saja, bahwa aku masih 16 tahun dan sebuah akta gadai tidak mungkin ditandatangi seorang bocah yang menuliskan NIM[2]  sebagai ganti NIK[3] dengan alasan belum ber-KTP. Bapak itu tidak tahu, bahwa kemarin aku menunggu hujan dan akan berteduh di bawahnya sore ini.
            Hujan yang pergi dan tidak kembali. Aku tidak peduli lagi, bahwa hutang puluhan milyar atas nama ibuku itu masih akan terus gentayangan, menemaniku yang sendirian. Bahwa ibuku pergi ke luar negeri karena menyadari hal ini. Karena aku memiliki sesuatu yang menguntungkan, aku ditinggalkan. Karena aku dapat diandalkan. Mungkin. Aku hanya berprasangka baik.
            “Little Miss?” sebuah suara menyelip di pintu ruangan
            “Ya?” sahutku
            “Saya mau membereskan cangkirnya,” ujarnya. Arfika lagi. “Oh ya, silahkan,”
            Ia masuk dan mengangkat cangkir itu, guratan tanda tanya jelas di wajahnya, terpaku pada kertas-kertas yang telah tercabik-cabik, “tolong beresin ini juga, kak.” Arfika yang lulusan ekonomi UI itu menatapku spontan, mungkin heran karena pertama kali aku memanggilnya dengan sebutan itu. Aku beranjak.
            “Kemana Miss?”
            “Berteduh di bawah hujan,” jawabku, ia kembali keheranan. Sama denganku.




[1] Public Relation
[2] Nomor Induk Mahasiswa
[3] Nomor Induk Kependudukan

Tuesday, November 13, 2012

Reasonable touch


                Kadang kita tak pernah tahu mengapa suatu kejadian konyol terjadi tepat di depan kedua mata kita. Sama halnya seperti saat ini. Seketika saja saat aku membuka mata dan seluruhnya berwarna putih. Seakan tanpa dimensi, tak melayang, tak terbang tak juga berpijak di lantai. Aku mendefinisi sesuatu yang indefinites, keberadaan dalam ketiadaan dan perwujudan tanpa perasaan. Aku samasekali tidak meracau karena kebingungan, tak juga ketakutan, tidak senang juga tidak berpemikiran. Aku bukan aku yang melihat luaranku, luaran dari injeksi lingkungan, aku benar-benar melihat diriku di kejauhan.           
Anakku, seketika saja benakku memanggil instalasi warasku untuk kembali dalam tubuh yang tak terbang dan tak melayang itu. Satu kali saja, satu kali saja aku ingin kembali untuk bertemu anakku.
xxxxx
                “Apa yang biasa kau sebut sebagai cinta? Apakah itu berdebarnya jantungmu atau rasa kasih dalam kegiatan social? Bagiku cintaku adalah kamu. Anakku.” Ujarnya setengah meracau.
                Matanya masih terkatup berat, alir infuse masih gencar melewati demarkasi darah dan cairan tubuhnya. Aku tekapar dalam dudukku. Betapa aku jadi tersangka paling bersalah, hampir diseret di meja pidana. Aku Cuma seorang mahasiswi yang bahkan tak pernah tertarik untuk berpikir apa itu cinta sebenarnya. Mendengar istilah itu malah membuatku jadi ingin tertawa, tak perlu tahu apa itu, tema di setiap drama.
                Aku suka berkata-kata rumit. Ya, sejujurnya bukan karena aku suka. Tapi karena seperti itulah, kau akan segera tahu jika kedua orangtuamu tidak berkewarganegaraan sama dan memiliki mental buku tebal yang super gila. Satu istilah kajian, dua istilah dan seterusnya, menumpuk jadi theoritical assumption yang membuatku sedari kecil jauh dari kehidupan nyata. Bahwa air mengalir dengan sifat begini dan  begitu tak sempat membuatku berpikir sesederhana, air di rumahku berwarna merah muda karena wadahnya. Aku kehilangan kreativitas sejak batita dan gigiku tidak menggigit selain yang bertuliskan “boleh digigit”. Gila. Hidup yang sia-sia.
                Sejak kapan aku peduli dengan ibuku?
                Pertanyaan semacam itu jadi membuatku lebih galau lagi. Tahun depan aku akan lulus dari fakultas hukum lalu kuliah keluar negeri. Mungkin ke Kanada atau bisa juga ke Amerika. Aku tak terlalu suka orang-orang Asia. Munafik, kebanyakan budaya.
                Orang sepertiku, pantasnya dihukum gantung saja. Tidak berguna. Tidak bermoral. Kehilangan akal sehat dan yang paling penting tidak berbakti pada orangtua.
                Pernahkah kalian tahu bahwa satu dosa akan berlanjut pada dosa lainnya? Dosa besar yang berlanjut pada dosa besar lagi? Itu semacam simultansi balasan perbuatanmu. Jauh di dalam diriku, aku tak tahu jati diriku, kehabisan kepercayaan, lupa bagaimana rasanya mampu melakukan sesuatu.
                Dosa yang pertama karena tak bersyukur dengan setting hidupku, berlanjut jadi dosa memusuhi dan dimusuhi teman-teman sekolah dasar. Berlanjut jadi dosa ketersingkiran karena menyingkirkan diri sendiri. Jadi dosa yang lebih besar lagi, mengatakan ini dan itu, tidak sopan terhadap orangtua, bersikap egois dan mahir menggunakan pembelaan dosa. Itu kulminasinya. Mahir menggunakan pembelaan dosa di hadapan orang lain, poros dosa yang paling berdosa. Aku Cuma seorang pendosa. Jadi monster konyol yang berlagak tahu segalanya. Haha.
                Keberadaan orang lain di dunia ini, bagiku sangat mengganggu. Aku tak suka berhadapan dengan mereka. Tidak tertarik untuk bersahabat, sekedar berpikir untuk mengambil keuntungan lewat profesionalitas dan kemapanan kerja. Mereka begitu mengganggu. Termasuk denganmu, berurusan denganmu hanya memperkuat kehinaanku saja. Satu pertemuan berlanjut dengan pertemuan lainnya. Kita tak perlu rela mati untuk bertemu. Sebab selalu akan ada pertemuan setiap hari. Ini setting kehidupan modern. Maka bagiku, ada baiknya untuk rela mati agar tak bertemu.
                Aku bukanlah orang yang dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tulisan ini dan itu. Pemikiran ini dan itu. Siapakah yang membutuhkan sesuatu yang tidak kontekstual? Aku Cuma rubah yang mengkhianati keterbelakanganku sendiri. Berlagak tahu segalanya yang tak pernah ku sentuh bagian terdalamnya, pemikiran mereka tentangku. Aku cukup menganggu bukan?
                Aku ingin punya sesuatu yang dapat dibanggakan. Mengerjakan sesuatu dengan benar. Tak perlu pujian, biasa saja. Bahwa aku dapat melakukannya. Entah, aku rindu ibuku, aku tak pernah dibiarkan mengerjakan apapun di sisinya. Supaya tak ada orang yang tahu bahwa aku Cuma bisa berpikir dan membaca buku saja. Aku rindu ibuku, setidaknya setelah aku berlari kesana kemari dan tak menemukan yang selainnya.
xxxxx
                Jalan raya kota malang searah memberiku inspirasi soal keterbelakanganku. Bahwa aku tidak mampu berkerjasama atau jadi pimpinan, jadi yang dipimpin? Asal dari ketidakbecusanku membangun kompetensi diri. Aku tak bertemu orang kecuali mengecewakan mereka. Ya, bertemu mereka semakin mengukuhkan kehinaanku saja.
                Aku suka bertengkar, tidak penurut, berkata-kata menyakitkan. Ah, buruk.
                Tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan bukan? Pasti ada jalan, dimanapun itu. Kita hanya perlu mencari peruntungan, semacam itu. Kata ayahku.
                Tidak, aku sekedar ingat kejadian beberapa tahun lalu, di kelas bahasa Indonesia ketika aku SMA. Masing-masing dari kami mengerjakan sebuah esai. Lalu datanglah hari penilaian, dan seorang anak dipanggil untuk membacakan karyanya, sebuah narasi tentang pentingnya membaca buku yang ditransliterasi jadi vitamin pikiran. Sederhana, menarik. Aku tidak.
                Di belakang itu, usai jam pelajaran, guruku mengajakku bicara secara pribadi, katanya, “Nak, ini tulisan kamu beneran?”
                “Iya bu, coba aja ibu cari di google, itu ada di blog saya sejak 3 bulan lalu.”
                “Selamat, nilai kamu tertinggi di kelas, saya berikan, 98” ujarnya sambil tersenyum berbinar
                “Bukannya Hadi yang nilainya tertinggi? Tadi ibu bilang gitu,”
                “Bukan, saya hanya berpikir bahwa akan sia-sia membacakan ini di kelas, saya rasa tidak akan ada yang mengerti. Mungkin kamu satu-satunya anak SMA yang pernah membaca naskah Shakespare dan memperhatikan pemikiran Schumann. Saya membutuhkan waktu 3 jam untuk benar-benar memahaminya, mungkin karena saya sudah tua juga, hha. Realis, romantic? Aliran seni, kamu terlalu berlebihan. Tapi itu jenius.”
                Seperti virus masyarakat, jenius tapi berlebihan, tidak akan ada yang mengerti, jadi alasan pembohongan. Jiwaku mati seketika itu juga.
                Tamat.
xxxxx
                Belum tamat.
                Sebab aku belum wafat dan tidak akan bunuh diri.
                Kita bicara tentang hal lain saja. Lain kali.

Sunday, November 11, 2012

Sebuah Pidato

Sebab malam kemarin seorang sahabat kembali mengingatkanku soal kesombongan. Tiba-tiba saja. Mimpiku malam ini seluruhnya full episode tentang sidang dan hari itu.

Ya, ini tentang kesombongan, juga tentang pidato panjang lebar dari abangku. Sore, di sebuah ruang sidang di Ciputat. Setelah beberapa paman dan kakek berumur 35 - 70 tahun menghampiriku dan mengucapkan, "barakallahu.." sambil tersenyum dan berlalu.
Abangku satu-satunya, berdiri dari kursinya yang di ujung meja di seberangku. "Barakallahu," katanya, lalu mengambil posisi duduk di sisi kananku. Dan aku, tak pernah menyela bicaranya, bukankah itu luarbiasa?
Katanya,

Apa manuver selanjutnya ibu pimpinan sidang? (menyindir) Apakah tidak sebaiknya kita putar kembali nalar dan berkeputusan ulang? Ini bukan hanya karena anti jadi pembicara termuda di agenda internasionalnya Al azhar minggu lalu atau karena IQ anti dua kali lipat dari kami disini kan?
Siapa juga orang yang mampu untuk tidak sombong. Empatbelas tahun dan hafidzoh, cumlaude di sidang fikrah dan punya orangtua yang bukan orang biasa. Ya, siapa juga yang mampu untuk tidak sombong. Paling dicintai sekaligus didengarkan kata-katanya. Siapa yang mampu untuk tidak sombong? Jadi adik kesayangan, selalu mampu mengulang notulensi dengan error yang paling minim di antara kami? Siapa yang mampu?
Abang kira orang sepertimu tidak mampu kan?

Sarkas. Beberapa wajah berpaling ke arah kami. Sembari katanya, "hmm, lagi dimarahin lagi,".
Jembatan, sandaran dan arahan. Masih tentang kesombongan dan pidato panjang lebar abangku satu-satunya.

Dalam beberapa kasus seorang muslim tidak perlu tahu banyak hal tentang keimanan. Untuk beriman. Lain kali, ia tak perlu tahu banyak fiqih untuk mengerti, tentang syar'i. Banyak orang yang tak banyak mengetahui agama, tapi membelanya. Bahkan Musa tak diperbolehkan bertanya, pada Harun gurunya. Bukankah itu istimewa?
Lalu kenapa seorang anak disini, berlagak tahu tentang segalanya? Bersikeras tahu sebelum memegangnya? Tidak ada lagikah nalar tsiqoh dalam Qur'an yang dihafalkannya?!

Nadanya meninggi dan aku pura-pura tak tahu ekspresi wajahnya. Menakutkan. Sebab orang seperti itu, ketika marah mengutip AlQur'an dan saat bernada tinggi, merendahkan orang dengan ruhiy, tanpa tendensi. Aku ingin jadi seperti abangku. Punya mental seperti itu, tulus dan tanpa topeng. Cerdas tanpa harus tes IQ per enam bulan. Kedua orangtuanya baik, setiap hari ada sarapan bersama dan gelak tawa penuh hikmah, keluarga.

Kesombongan itu membakar kayu sampai jadi debu. Hilang segala cerdas dan ketekunan.
Tidak perlu kemampuan unuk jadi sombong, cuma perlu sedikit hasutan setan, kepada orang yang dibutakan penglihatannya. Menolak kebenaran, merendahkan orang.
Terkadang melihat nyamuk sebagai belalai gajah atau leher jerapah. Kadang melihat kegagalan sebagai ketidakpatuhan orang.. Anti bukan tuhan.

Gila. Masih sakit hati sebenarnya. Tapi ingatan seperti ini mungkin hanya tiba-tiba ada di pagi ini. Gajah dan Jerapah. Itu bagian lucu. Aku tertawa kecil, meremehkan analoginya yang kacau. Ia juga berpaling ke belakang, mungkin tertawa juga. Tudingannya jadi semakin menusuk walaupun tidak menyakitkan.

Beberapa ustadz kami dan musyrifahku menganggap kami punya banyak kemiripan. Kecuali satu hal itu, miliknya, kekacauan analogi. Dan satu hal lagi, milikku, tingkah kekanakan. Gaya bahasa, intonasi suara, permainan logika, puisi favorit, model tulisan, kesukaan makanan, orientasi obrolan, pandangan shirah dan fikrah, hafalan, ibadah harian, persis. Kami selevel tapi bedanya, ia lebih tua 4 tahun. -.-"

Karena sombong itu berasal dari hati yang sakit. Tidak perlu banyak hal hebat untuk sombong, sekedar lupa bahwa adik akan terkalahkan dengan orang lain, bahwa setiap orang memiliki keistimewaan. Mungkin disanalah awal hasutan setan. Untuk mendengarkan, untuk tidak mengacuhkan. Bicaralah atau diam.
Suatu hari ketika saya tidak ada lagi, anti akan banyak terkalahkan, oleh kesombongan adik sendiri. Karena adik begitu rumit dan anti tidak mampu menganggap orang lain dengan lebih dan lebih lagi. Sebelum itu terjadi, mungkin ini terakhir kalinya ada nasehat seperti ini. 

Karena itu memang nasehat terakhir. :)

Thursday, August 16, 2012

Belasungkawa Pion Kaca


Oleh : Mira Fajriyah
         
Rumah ini kembali sepi. Aku tak pernah tahu sebelumnya, bahwa kesunyian yang seperti ini akan jadi sebuah pil pahit yang tak kusukai juga. Biasanya aku suka, berdua dengan diriku, memperhatikan bunga yang ditanam di taman halaman depan, memasak pudding dan ikan laut kukus kesukaanku, ya, masakan lainnya juga. Biasanya aku suka, berdua dengan diriku, menuliskan segala keresahanku di bait-bait puisi yang tak mungkin dimengerti orang lain – kalau saja ada orang lain itu. Lalu di sore dan malam harinya, menonton televisi dan mengerjakan tugas sekolahku, sesekali main game, juga menjahili beberapa anak menyebalkan di kelas lewat sms kalengan, ya, lalu tidur. Habis hidupku seharian dalam kesunyian, berduaan dengan diriku.
            Aku suka menulis. Entah, mungkin segala stimulus theoretical assumption yang selalu kudengar dari diskusi ayah ibuku terlalu menggunung di pelataran simpul kimia otakku. Aku suka menulis. Menulis apa saja. Seperti saat ini.
Tapi seperti yang kukatakan sebelumnya, kali ini kesepian ini begitu menjijikkan. Membuatku mual dan berharap segalanya cepat berakhir. Tanpa pertolongan juga tanpa pena yang tiba-tiba bisa bicara. Seakan segalanya serba timpang, aku tak suka lagi berdua dengan diriku. Aku yang ini, yang tak suka dengan diriku, seakan jadi dua sisian yang tak saling berdampingan, dua pintu yang tak saling membuka. Bungkam seribu bahasa.
------------------
Beberapa hari lalu, teman ibuku datang di ruang tamu ini. Ia membawa serta dua anaknya yang menjijikkan, berumur lima dan empat tahun. Kedua anaknya itu kurasa sepasang anak perempuan yang mengidap sakit gila, menggelesorkan diri di karpet ruang tamu, lalu meraung-raung meminta dibelikan es krim. Dua-duanya, anak perempuan bau ingus yang mengidap kegilaan akut. Lalu ibuku dengan senyum tertahan yang kebingungan, Cuma bisa kelu menanggapinya. Juga temannya yang tak mampu menangani kedua anak busuknya. Aku menggelengkan kepala, masuk kamar dan menulis sebuah kalimat di sticky notes layar komputerku, anak setan juga ikut turun ke dunia bersama moyang mereka, abadi sampai neraka.
Baiklah, anggaplah kini aku tak lagi sendiri. Sebab kau telah dengan sabar menekuri kalimatku. Kau, lagi-lagi dengan sabar menyusun reaksi kimia di pelataran sinaps otakmu untuk merelakan beberapa informasi sampah dalam tulisanku ini, masuk dalam memori bawah sadarmu – yang sewaktu-waktu bisa saja keluar dan mengacaukan hidupmu. Bahwa kita kini tak dengan diriku yang tak kusukai atau dengan dirimu yang tak pernah kukenali.
Singkat cerita, aku tidur lagi siang itu. Lalu sorenya kudengar pintu kamarku diketuk perlahan. Membangunkanku yang lumayan sibuk dengan pembenahan instalasi alam warasku pasca mimpi di kedalaman jaringan neuron. Aku sempoyongan, perlahan kubuka pintu dan kudapati ibuku tersenyum simpul satu-satu senti seperti biasa. Membelai kepalaku. Ah, mengganggu saja.
Tapi ternyata aku salah. Kali ini beliau tak hanya sekedar menggangguku. Tapi untuk ke sekian kalinya akan melumat-habiskan hidup harianku. Katanya, seorang psikolog sudah kembali datang dengan setumpukan aplikasi tes IQ. Katanya, ini jadwalnya, jadwal enam bulananku, jadwal yang tak pernah kubuatkan lingkaran merah di kalender atau ku ingat setiap kali datang temponya. Aku mual, dengan segala ketidakwarasan ini.
------------------
            Umurku sembilan tahun. Aku asli keturunan China. Keturunan otak jenius professor ekonomi sosialis di Tokyo. Umurku Sembilan tahun. Ibuku seorang pengusaha butik hebat. Ia mengambil doctoral bidang ekonominya di Canberra, bertemu ayahku lalu mereka menikah. Umurku sembilan tahun. Aku membaca surat cerai kedua orangtuaku. Saat itu umurku lima tahun, masih siswi kelas dua primary school. Umurku Sembilan tahun. Dan aku dianggap punya keterbelakangan mental.
            Bagi sebagian orang aku menggemaskan. Terutama bagi para tamu ibuku yang pecicilan mencari inspirasi dalam mempermudah bisnisnya. Bagi sebagian orang aku menyebalkan. Terutama bagi teman-teman sekelasku. Aku suka mengutuk mereka dengan ekspresi meyakinkan yang ku tiru di film-film fantasi. Aku suka menjahili mereka dengan sms kutukan dan melempari mereka dari belakang dengan pensil. Bagi sebagian orang aku amoral. Terutama bagi para guru di sekolahku. Aku sering keluar kelas ketika mereka menulis di papan. Aku sekali-dua kali ikut pelajaran jam olahraga dan kelas hobi, sisanya kutinggalkan. Bagi sebagian orang aku picik dan nakal. Aku sering ke perpustakaan dan memindah-mindahkan buku-buku yang tersusun rapi menurut skema kepustakaan. Aku beberapa kali membohongi guru BP dan menuduh temanku dengan berbagai alibi. Mereka tahu itu. Umurku hanya Sembilan tahun.
            Aku kelas enam SD dan dua bulan lagi tes nasionalku untuk keluar dari rutinitas sekolah dasar akan dilangsungkan. Ibuku bilang setelah lulus dengan nilai bagus, aku tak akan lagi dipaksa pergi ke sekolah. Aku akan menjadi dewasa dan aku akan punya lebih banyak hal menyenangkan. Ia hanya tahu umurku Sembilan tahun tapi tak tahu bahwa anak seumuranku tak bisa dibohongi dengan cara naïf macam itu. Semua orang tahu, sistem pendidikan menjijikkan ini mengharuskanku hadir dalam rutinitas belajar setidaknya sampai umurku Sembilan belas tahun. Tiga tahun SMP, tiga tahun SMA, empat tahun di perguruan tinggi. Masih jauh dan selama itu pula ibuku dan psikolog bodoh ini terus akan jadi momok yang menggelikan bagiku.
            Maka setumpukan buku kuisioner memalukan hadir di penglihatanku. Inilah masa-masa penjara itu. Kata Nizami penulis Persia kuno kisah Laila Majnun itu, lebih gila dari nuansa serigala padang pasir mengarungi penginderaanmu, merasuki khayalanmu tentang kecantikan duniawi, tapi itu semua bohong, kata-kata lukisan belaka. Aku mengantuk, memaksa tidur lagi.
Apa yang biasa kau pikirkan sebelum kau pergi dari rumah? Apa yang menurutmu biasanya dipikirkan anak umur Sembilan tahun sepertiku? Apakah kau pikir aku cuma suka dengan keterbatasan tinggi badanku ketika harus masuk wahana yang tak diperbolehkan selain untuk mereka yang di atas 100 sentimeter? Aku mengamuk. Di kediamanku. Menyelesaikan soal bau bangkai ini seraya memutar balik dan melurushadapkan pikirku tanpa pola tentang wahana halilintar dufan. Terus melakukannya sampai pukul delapan malam, lalu membuang pensil yang telah berjasa ikut serta dalam kegilaan ini, ke arah dapur sejauh 4 meter – dengan marah.
Mungkin seharusnya aku tak pernah dilahirkan saja. Mungkin seharusnya ayahku bukan orang luar Indonesia atau setidaknya Thionghoa Jakarta saja. Mungkin seharusnya ibuku tak perlu mengambil beasiswa doktoralnya waktu itu. Mungkin aku tak perlu dianggap sedikit lebih jenius dibandingkan teman sekelasku yang bukan anak profesor dan doktor ekonomi. Mungkin arena hidup ini memang berkelindan seperti yang dikatakan Tere Liye dalam Rembulan Tenggelam-nya. Rupanya aku benar butuh isian otak yang lebih bergizi lagi.
Agar hatiku lapang dan penuh bunga. Agar kebijaksanaan tumbuh dan kedewasaan mapan bercokol dalam setiap pertimbanganku. Agar aku tak perlu berharap jarum jam berputar ke belakang. Lalu ia berhenti pada masa ketika aku berumur tiga sampai lima tahun, sebelum hari kutemukan selembar akte pengadilan negeri di meja kerja ayahku. Ah, aku tak akan bicara seperti ini lagi.
Bukankah setiap orang berhak menjadikan dirinya sutradara dalam episode hidupnya? Tidak. Tentu saja. Kita hanyalah pion di atas papan takdir yang berkelindan. Inilah simfoninya.
Sama sepertimu, aku juga pion-pion itu. Di antara kita, ada pion kaca bersayap, kosong dan menyilaukan seraya terbang mengangkasa, melewati kotak-kotak hitam-putih. Di antara kita juga pion besi yang pejal, berat membawa dirinya, melewati satu demi satu perjalanan hitam-putih, teguh dan menyambut ketegaran di setiap persimpangan. Di antara kita juga ada pion air yang menguatkan, tembus cahaya dan tak pernah memakan yang lainnya, mengalir dan melewati batas-batas kecil. Di antara kita lebih banyaknya bukan pion kaca bersayap ataupun pion besi atau pion air. Kebanyakan kita tak terdefinisi dan mungkin saja irisan atau perpaduan dari variable pesona, ketegaran dan fleksibilitas. Kebanyakan kita tak tahu perkara pion-pion itu.
------------------
            Beberapa saluran televisi kabel cukup menarik bagiku. Aku suka discovery channel, BBC, dan tentu saja, nickelodeon. Aku tak suka film romance. Selain karena ibuku rajin berceramah soal virus sampahan dari konstruksi nalar film romance, aku memang tak mengerti alur logikanya. Sementara beberapa anak perempuan lain di kelasku memang gemar bicara soal film Spanyol yang baru-baru ini di tayangkan di saluran televisi swasta nasional. Aku samasekali tak kecewa, mereka tak tahu bahwa telah terjadi lonjakan statistic penduduk dunia, puisi Rendra dan Taufik Ismail, kekeringan di Afrika dan perang di kawasan Timur Tengah, bombardir AS atas Irak, atau tentang Patrick yang ternyata hanya disukai Gary berkat sepotong kue di kantong celananya. Kata ibuku, pengetahuan seperti itu lebih mapan dan lebih berguna daripada hafalan kisah cinta picisan.
            Aku jadi ingat. Beberapa tahun yang lalu aku sempat juga penasaran soal Romeo dan Juliet. Ibuku bilang itu pengetahuan orang dewasa. Tapi ayahku Cuma tertawa geli waktu itu, menggendongku, lalu ditanyainya aku, “darimana kau dapatkan informasi mahal semacam itu?”. Kulihat ibuku masam, seakan tahu ada hal menjengkelkan yang akan dihadapinya. Ya, setelah itu selama semingguan aku Cuma sibuk menghabiskan bacaan naskah drama shakespare 1778 dan kumpulan puisi Schumann yang diberikan ayahku. Sejak saat itu, aku tahu banyak mengenai “pengetahuan orang dewasa yang mahal itu” – sebuah simpulan yang ku-ambil dari definan kedua orangtuaku. Aku lumayan pintar untuk anak yang rata-rata lebih tua dua tahun dariku waktu itu, kata ayahku. Aku percaya saja, tak tahu itu pujian atau kebanggaannya atas diri pribadinya.
            Maka ketika seekor burung bersikeras mematuki jendela kaca kamarku, aku kembali terbangun dari lamunanku di meja belajar. Aku masih sendirian. Mengetahui bahwa aku kini tak suka berdua denganmu. Dengan tanpa diriku yang tak kusukai juga dirimu yang tak pernah ku kenali. Kita hentikan saja celotehan ini sampai disini. Aku masih menulis. Masih dengan pena yang tidak tiba-tiba bisa bicara.
            Ya, umurku Sembilan tahun. Tak bergerak dalam dinamisasi luaranku. Umurku sembilan tahun. Terlalu banyak berkata ‘aku’. Aku jadi potret penduduk ke-aku-anku. Dan aku sendiri, tak suka kesendirianku lagi. Umurku Sembilan tahun. Aku orang buangan dari perspektif diriku sendiri. Umurku Sembilan tahun. Dimarahi hati kecilku, memaksa burung merpati itu bicara padaku, mengertikah kau?