Wednesday, June 8, 2011

Nila saga

Sejatinya aku merana hingga ke pelupuk irisan mata. Warna biru dan kuning serentak bersama mengaburkan alasan tentang pengusiran nila ke alam baka. Rasionalisasi sempurnanya karena Tuhannya. Halaah... ada ada saja. Dihasut filologi kesejarahan yang menjadi basi seketika.

Lalu meranaku bertambah-bertambah, menampar kedua pipiku dalam runutan nada yang tak pernah kutemui sebelumnya. Mengakar dalam puisi radict yang kusembuhkan darinya yang dulu. Ya, yang dulu.

Hingga sepatu putih berdetak dalam serasah akar rumput yang jauh dari pandang politik integral para elitis. Menepi di dangkalan tanah merah. Kemudian akhirnya merogoh luka yang menganga, dimakan efek sistematisasi konvensional yang kentara. Ah, gilanya.

Padahal dulu katanya tak sebegitu begininya. Padahal disini tak seperti yang disananya. Tambahan bumbunya, padahal saya tak se-saya-nya anda. Halaah.. ada ada saja. Dimakan sarang ailona kampus yang miris

Aku dibawah langit fakultas hitam merah putih

2 comments: