Wednesday, August 3, 2011

Ultrav

Aku sengaja, secara tak sengaja menenun kait dalam tutupan jilbab merah mudamu yang cantik. Aku sengaja, secara tak sengaja terpesona. Bahwa runutan kecintaanmu itu adalah murni yang menyala wangi. Bahkan katamu, kalut cuma bias rasa yang terdefinisi begitu saja. Ya, sengaja dalam ketidaksengajaan yang tinggi.

Sementara itik kurus masih mencari makanannya di serasah rumput hutan cemara.

Secara tak sengaja pula ia telah sengaja mengajariku tentang larutan buih di jalan takdir yang rinci. Di relungan kaktus-kaktus gurun matari. Terik! Gersang menyengat. Sebab aku tak suka. Sengaja secara tak sengaja meninggalkan setting jernih yang putih di bias intensitas ultraviolet jalan-jalan raya.

Sejauh itu aku melangkah.

Tak sengaja, sengaja memilih jiwa. Jiwa yang bertaut dalam kait salut yang menyulut bakaran asap-asap rerumput. Aku katamu, satu, satu per satu jadi jalinan taman bunga warna warni. Aku katamu, mawar hijau itu. Ya, sebelum jadi putih atau kuning yang semestinya. Di jalan, jalan jalanan yang berjalan di bukaan jalan-jalan layang. Aku terpana. Sesengaja itu tak sengaja melangkah.

Luarbiasa!

No comments:

Post a Comment