Friday, July 29, 2011

The Precipice

Baiknya aku selalu tahu bahwa jurang ini telah menemui batas sisiannya. Direngkuh nada-nada khayal tentang terbang ke dasar. Hingga jatuh berbisik dalam debam kering tanah serasah. Aku mati. Tak bisa bangun lagi.

Mungkin terbang tak perlu lagi dengan sayap. Atau aku tak perlu lagi mati untuk kedua kali. Ya, selaksa kata muncul berkelebat, semilir menyusup dalam renungan jatuh yang hebat. Kegilaan alur salamku yang hangat, diantar unggun malam dan cicit jangkik kota-kota abad. Aku tercekat. Mati karena energi hujan kilat.

Merangas. Lebih ganas. Panas!

Somebody paid me for real. While the wheel wont take out the whole hole. Never give up!

No comments:

Post a Comment