Wednesday, August 10, 2011

Tafakur

Akhirnya rasa-rasaku menemui jaring tangkapnya dalam nuansa selaksa kata yang berkepanjangan. Jika habis waktu, waktu kata tak lagi bisa bicara. Waktu itu, kita berduka untuk asap yang hilang batas di kiamat hariannya. Rabb, aku belum habis perkara, dibisikkan nelangsa oleh syayathin yang jauh menganiaya. Rabb, maka tolonglah aku.

Bila saja kemudian aku dipungut pergi ke alam baka. Anyir memasak nanah jadi batu dan pukulan darah. Ah, aku ditampar dan digulingkan sejauh lolongan suara. Rabb, aku belum habis perkara, begitu basi selalu mengatakan basi, racun impuls yang mendilematika asa. Rabb, maka ampunilah aku.

Lalu bulu-bulu lintah tersapu pijar api yang menyala-nyala. Dibujuknya aku untuk makan buah yang panas menyiksa. Ya, Rabb, bila telah datang masa, aku mati tak bisa lagi berbuat apa-apa. Ya, Rabb, sebab itu pasti adanya, di lekuk hidupku yang berputar tak mengangkasa, aku hanya sekedar insan belaka.

Bergetar halilintar. Bukan lagi rintik yang biasanya menitik licik. Ini jauh dari sekedar titik. Bukan juga seribu titik, atau titik setelah deret angka koma dan tanya. Ini bukan sekedar titik, titik seusai pergi hitungan angka. Akhirnya ini bukanlah titik, bukan titik yang pernah kuketahui.

No comments:

Post a Comment