Wednesday, August 10, 2011

Sebuah Dialektika


Aku melihatnya berbaur dalam cahaya matari pagi.
Disana dan disini, tangan lusuhnya masih merayapi kesana kemari.
Tebaran sampah-sampah kota elegi, cuma jadi bias pagi dan sore hari.
Mereka, ketika ditanya, tak lagi punya angan untuk masa depan.
Mereka, ketika ditanya hanya punya putus asa.
Lalu dibagi-bagi, jadi kering yang tak menyuburkan lagi.

Ada suatu dialektika bahasa yang selalu memberi warna dalam setiap batasan persepsi kita. Dialektika yang subur sejalan dengan masih adanya sisian kiri di samping kanan juga selama masih adanya bagan atas sebelum bagan bawahnya. Dialektika bahasa ini pada suatu ketika juga menghampiri konsensus-konsensus manual dalam internal diri kita sendiri. Konkretnya, ini tentang suatu perspektif pribadi-pribadi dalam memberi label atas kejadian-kejadian yang menimpanya.

Dialektika bahasa memaksa kita membentuk suatu tabiat dan paparan eksistensi terhadap diri kita sendiri. Fantasi analognya, setiap orang memiliki dua kantong dalam perspektif dialektika bahasanya. Kantong pertama adalah kantong positif dan kantong kedua adalah kantong negatif. Setiap kita tak pernah berhenti mendefinisi, ini positif atau itu negatif. Lalu tanpa kita sadari kedua kantong itu selalu kita bawa kemana saja, baik dalam tidur ataupun bangunnya kita. Lengkapnya, setiap apapun yang masuk dalam kantong positif akan terurai layaknya O2 yang menutrisi dan memberi alir energi, sebaliknya setiap apapun yang masuk dalam kantong negatif akan bertransformasi menjadi semacam CO2 yang merusak dan meracuni.

Kita mengisi kedua kantong itu dengan serangkaian informasi yang ditangkap indera. Ketika misalnya kita mendapat nilai ujian percobaan yang belum dalam batas aman impian, kita tentu akan segera memasukkannya dalam salahsatu kantong dialektika bahasa pribadi kita. Jika kita membahasakan informasi atau kejadian tersebut sebagai suatu hal yang positif, maka bonusnya adalah asupan layaknya oksigen yang menyegarkan untuk terus berusaha. Sebaliknya jika kita tidak sanggup men-dialektika-kan kejadian atau informasi tersebut untuk disebut positif, maka satu nilai uji coba yang belum tersebut akan masuk dalam kantong negatif yang sebagai imbasnya meracuni kita dengan amarah dan sesal yang berkepanjangan.

Inilah sebabnya kedua kantong itu disebut perangkat dialektika bahasa. Sebab setiap kita bisa berdialog, berdialektika dengan bahasa-bahasa dan pembahasaan diri kita terhadap suatu konteks yang menimpa kita. Maka setiap kita berbeda, unik dan memiliki dua kantong dengan besaran yang tidak mungkin sama. Seseorang bisa saja memutuskan untuk mengurung diri di kamarnya atau ia bercanda lagi dengan pagi dan esok hari. Seseorang bisa saja mengutuki para pejalan kaki yang menyebrang atau ia memperlambat laju kendaraannya untuk tersenyum bahagia. Ya, segalanya bisa saja jadi lebih indah jika begini caranya. Layaknya oksigen yang menutrisi dan memberi energi. Kita bisa jadi terus ‘hidup’ kembali.

Aku berfantasi punya kantong ajaib.
Satu saku untuk menyelesaikan semua masalahku.
Satu kali saja mengambil sesuatu. Lalu jadi aku.
Jadi aku butuh satu saku untuk memilih kata-kata dan caraku.
Kantong ajaib dialektika bahasaku. Lalu jadi aku.
Jadi aku memilih satu dari gudang saku.
Pilihanku untuk terus berprestasi dan maju.
Untuk kau juga, bersama-samaku.

No comments:

Post a Comment