Tuesday, November 1, 2011

Prime Frame


Tanpa lelah, sebenarnya sebuah frame mengukur sistematisasi prestisiusnya setiap kali dibangun nuansa lelah di selipan kacanya. Dan ia berbicara tentang suatu prime dari frame beningnya. Frame kaca yang patah menggores luka, sarkastik, keras, sadis. Alur melankolis bagi tawanya yang sumringah. Memunculkan sebuah kuasa nalar yang meletuskan energi sebagai pribadi, sentrisme diri. Prime frame, primus interphares.

Saat interval nada-nada hidup menyemai bulir hikmah sebagai tanda. 

Sejatinya primus interphares menyuarakan rangkaiannya sebagai sasana cemerlang memukau. Hingga sampai jamur hilang di metafora dilematika berbaur panas dan lembabnya udara. Sebuah prime frame, primus interphares.

Ini kosakata dan desire yang nyata, dilunakkan dalam basa-basi dan tali temali jari-jari hati, buku-buku lini diplomasi yang terbang tinggi. Lalu kosakata jadi terlembaga dalam loker-loker mekanisme juang dan pikiran simpulnya. Lalu desire jadi lorong-lorong kubus dari batu yang disusupi niatan memengaruhi cahaya-cahaya, api dan lilinnya. Sebagai prime frame, primus interphares.

Berdiri menjejak saat turunan kaca dan integritas pionnya jadi tuan-tuan yang membelakangi empirisme data.

Ini soal prime frame. Mengalirkan warna sekalipun sejatinya ia tak tahu bau warna yang dihadapannya. Mendefinisi, terdefinisi. Jadi definan nutrisi hati yang menyeret dilematika pribadi, sentrisme diri. Prime frame, primus interphares.

Sarkastik, keras dalam wujud dan medium eternitas kepahamanku. Pion primus interphares.

No comments:

Post a Comment