Saturday, March 10, 2012

Geram

Maka terbitkanlah matahari dari barat, jika kau memang tuhan! Terbitkanlah ia dengan tanganmu, sebab Allahu Rabbi telah melakukannya dengan kekuasaanNya! Dan engkau serta-merta jadi golongan yang rendah lagi terhinakan!

Maka serulah thaghut-thaghut yang dengannya kamu berjanji dalam urusan dunia! Niscaya mereka mengakui kebesaran Allahu Rabbi dan menyengsarakanmu dalam angan-angan belaka! Ya, serulah mereka yang kamu banggakan itu! Niscaya Akupun menyeru Tuhanku Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang...

Sunday, February 26, 2012

Definan Langit



Oleh : alfajri

Definan kembali menuansa ketika dianggapnya bau jiwa cuma sekedar angka-angka dan kiasan belaka. Ah, klise katanya. Sementara jejaring fakta bertebaran dimana-mana. Tak bisa diraba-raba, dicari-cari pembenaran atasnya atau meneguk dialektika rasa yang tertumpah jadi semilir angkasa. Keterlaluan, bukan.
Dan ya, mari kita tundukan kepala dan berdoa, bahwasanya kekaburan makna di forum-forum kita sudah sepandangan dengan jalan berliku soal manis-manis pahitnya bumbu retorika. Cuma sekedarnya saja. Ini-itu tak terlalu banyak tanda tanya. Sekedarnya saja, kesana kemari Cuma bawa dua hitungan, satu dan nol, jadi tiga.
Sesungguhnya definan yang kembali menyeruak, menyerupai bilangan yang mendefinisi satuan definisi lainnya. Jadi kocar-kacir membentuk simpulan. Selanjutnya mati rasa jadi buaian di dalam rongrongan. Terlena ia, namun katanya, ah biasa saja. Luarbiasa, bukan.
Maka langit tak patut diseru untuk menjatuhkan hujan, pula logika tak patut diseru untuk menarik kebenaran. Maka daun tak patut diseru untuk meranumkan hijau,  pula sama, bulan tak perlu diseru untuk memancarkan lembutan. Sampai di hatinya, jauh dirasanya, definan yang lebih dari sekedar dua angka, satu dan nol, jadi tiga.

Sunday, February 5, 2012

Tercengang

Kumulai setiap goresan dengan satu kesakitan. Bahwasanya hitam yang mencintai putih adalah tanda telah menistainya pula. Ketika kumulai setiap goresan dengan penghabisan. Sebabnya tinta akan sirna usai dibenamkannya ke laksa cita dan akan patah batangan usai diserahkannya semua dayanya. Ya, aku memulainya, atas sebuah dilematika yang tak tergambarkan oleh pesona. Seketika itu merana, sebab goresan dengan penistaannya, meracau demi akaran logika bahwa ia juga jadi penghabisan permulaannya.

Entah, bening yang dirajut di sepersekian inchinya saat harus memilih dunia atau keutuhan dirinya. Entah, laut yang meringis di setiap pergerakannya saat harus bercita-cita mengenai tenang atau kematian pribadinya. Dan aku bungkam, menerima sakit dan penghabisan permulaaannya, di tiap selipan kata dan keragu-raguannya.

Sempurna, bukankah cemeti jadi alat untuk melarikan diri? Ketika sampai di hatinya, sampai jauh pergi fungsi presisi dari peruntukkannya. Sempurna, bukankah tujuan jadi alat untuk menyembunyikan hati? Ketika sampai di kepergiannya, menyalip silang dalam perlombaan putarnya dengan relevansi zaman. Ah, setia, rumusan macam apalagi dia?

Maka akhir yang mengagumkan jadi penerimaannya atas perujungan sakit dan penghabisannya, bukan?

Saturday, January 7, 2012

Catalog

oleh : Alfajri
“Setiap pergerakan jantung kita, pastilah dihitung sebagai materi pertanggungjawaban di yaumul akhir nanti.” Ujarnya fasih. Sementara aku masih meneruskan langkahku menemaninya bicara di sepanjang perjalanan kami menuju kantin. Mengangguk saja, itu sudah cukup untuk memastikan ia tetap stand by dengan seuntaian kalimat nasehatnya yang – sebenarnya – sudah cukup membuat telingaku resisten.
Tadi memang kelas agama Islam dan secara langsung, mata pelajaran itu memang selalu mengaktivasi segelontoran materi pesantrenan yang – mungkin – jadi konten utama syaraf-syaraf sinaps otaknya. Aku memang tak selalu tertarik dengan bahasan yang diterbitkan dari suara bersihnya yang teduh itu, tapi aku selalu suka membuntutinya seraya bertingkah high class sebagai satu-satunya anak perempuan yang bisa mendapat pengajaran langsung darinya. Hehe… Seakan aku anak paling berbakat di sekolah sehingga bisa berdekatan dengan anak 12 tahun sekeren dia.
Entahlah, atau mungkin aku memang hanya membohongi diri sendiri saja. Waktu itu umurku baru sepuluh tahun dan aku samasekali belum mengerti hal-hal seputar pubertas. Terlebih di latarbelakang lingkunganku yang tak pernah menyindir-nyindir soal ‘hal itu’. Aku waktu itu mungkin hanya sekedar masih terbius dengan kata friendship yang diucapkannya dua minggu sebelumnya. I just am thinking that he was the first ever after, yeah! Just like I said, finally, there’s somebody needs me to be his friend, hoaah J
Ya, tapi memang kuakui, aku sekedar suka membuntutinya begitu, selain materi pesantrenan gratis yang pasti kudapatkan, suaranya memang bagus untuk menyejukkan lapisan gendang telingaku yang mungkin sering meringis akibat suara teriakan mama dari lantai bawah waktu memanggilku sarapan atau suara Gerald Way yang sering kuputar volume maksimal di sound system kamarku. Ia begitu patut dirindukan, dan mengatakan itu membuatku ingat bahwa ia juga gemar mengatakan bahwa aku memang patut dirindukan. Waktu itu, waktu segalanya masih begitu permulaan.
Ia sangat menjaga batasan interaksinya dengan anak-anak perempuan di kelas atau bahkan seluruh anak perempuan di sekolah, di seluuuuuuuuuruh duniaaaaaaaaaaaa. Hmm… bukan mahram katanya. Tapi denganku? Lagi-lagi, aku memang masih berumur sepuluh tahun waktu itu dan tak mengerti benar adanya hal-hal semacam itu. Katanya, aku ini adiknya yang supercerdas. Heaah… sebenarnya aku tak terlalu suka dibilang cerdas tapi untuk sekedar membuatnya stand by tersenyum seperti itu, aku ikhlas-ikhlas saja-lah. Tak ada lagi yang begitu baik hati mengatakan friendship waktu kutanya dengan sinis yang niscaya ayahku-pun akan bergidik ngeri dan melakukan apapun yang kuperintahkan. Ya, lagi-lagi, he was the first ever after, and I believe he have something more than everyone having, inside his eyes, seems like a very-very gold bravo! I just tried.
Saat aku berumur limabelas tahun aku baru memahami apa yang sebenarnya dimiliki seorang ia yang begitu ‘perfect’ di mataku. Ia punya kekuatan ruhiyah. Iya, sebuah kekuatan ruh yang pastinya saat itu mengungguliku yang hanya lulusan boarding school katholik di pusat kota. Ia telah terdidik sebagai seorang hafidz qur’an dan berbicara lembut tanpa bising pengiringan nuansa yang memenjara – seperti yang kudengar dari selainnya selama ini.
Gila, aku baru mendapatkan jawabannya lima tahun sejak kutanyakan itu padanya. Sebuah jawaban dari pertanyaan lawas yang hanya dijawab senyum geli si narasumber.
“Bid, bid, kenapa ya aku nggak berani ngomelin kamu kayak aku ngomelin orang-orang di rumah dan kantor mama ku? Terus kenapa juga ya, kok aku jadi nggak bandel dan nurut aja waktu kamu suruh ini-itu?” begitu bodohnya aku bertanya di hadapan dua piring siomay di kantin sekolah kami waktu itu.
                Tapi ia memang bukan malaikat yang tak punya kekeliruan. Justru mengangkatku menjadi satu-satunya anak perempuan yang berani diajaknya makan bareng ke kantin, ngaji di kakeknya, main ke dufan, dibelikan apapun yang ku mau, membelaku di pertengkaran sepele – termasuk – mengajariku bermacam pemahaman keIslaman adalah sebuah investasi kesalahan fatalnya yang paling fatal. Sebab ketika kami sama-sama beranjak dari umur 12 dan 10 tahun itu, segalanya berubah dan tak lagi jadi senyaman sebelumnya.
Entah, aku memang masih juga tak banyak mengerti, tapi kepulangannya setelah dua tahun ke madinah dan tak menghubungiku sama sekali selama itu, sudah cukup menyentakku hingga ketar-ketir bukan karuan. Waktu itu aku masih juga belum dewasa – mungkin saat ini juga. Ia tentu saja sudah punya janggut tipis yang – katanya – memang sengaja dipeliharanya. Suaranya sudah tak lagi se-datar dulu dan aku jadi sedikit ngeri untuk sekedar menerima deringan namanya di layar handphoneku. Setelah tragedi mendatangi ibuku dan di tolak mentah-mentah (yaiyalah –“), ia malah mengatakan bahwa beberapa tahun lagi akan kembali mendatangi rumahku. Habis itu, terbang lagi ke madinah dan – untuk kedua kalinya – tak menghubungiku selama itu juga.
Ah, aku sakit bukan main. Dalam kurun dua bulan lebih mengonsumsi paracetamol dan antibiotic prasangka dokter – hingga ku pikir aku akan segera mati overdosis. Sampai-sampai ayahku yang sedingin itu terbang ke Indonesia sembari mengomeli ibuku, mengatakan bahwa ia tak becus mengurusku. Padahal, mereka berdua sama tak becusnya!
                Mungkin aku memang tak pantas juga mengatakannya. Dan mengatakan semuanya. Dengan sebuah benar yang sungguh sebenar-benarnya, ini mungkin memang sebuah jalinan cerita yang begitu banyak mendidikku hingga saat ini. Ya, dari boarding school katholik – yang walaupun aku selalu membuat keonaran dengan menanyakan hal-hal bodoh berbau kesangsian terhadap doktrin pastur disana – mungkin aku tak akan jadi diriku yang dapat menulis ini bila ia tak melakukan kekeliruan fatal itu. Atau bahkan Allah memang sengaja mengalirkan setting skenario berikut tindakan-tindakan penuh makna para aktor-aktornya, yang walaupun itu adalah sebuah kesalahan dalam muamalah hati. Ya, kembali pada Allah selalu jadi jawaban terangnya.
                Sementara kenyataan bahwa saat ini ia telah tiada dan tak akan datang ke rumahku lagi adalah sebuah pengajaran yang begitu berarti bagiku. Sebuah katalisasi diri yang memurnikan niat hijrahku selama ini, walaupun disorientasi itu baru saja kualami sejak latah ikutan puber bareng anak-anak sweet seventeen di kelas dua SMA waktu itu. Haha kukira aku baru saja memastikan bahwa aku memang belum lagi dewasa untuk ber-bijaksana ria.
                Bahwasanya ia pula pergi dengan sebuah rekahan senyum memesona yang begitu kukagumi. Pula atas kemantapan hatinya usai berdiskusi denganku. Pula atas kata-kata manis sebelum berangkatnya. Dan perjumpaan yang panjang di pembukaan 2010. Dan seorang bayi mungil yang diajarinya memanggilku amah. J
                Ya, Allah oleh sebab rahmatMu kami berIslam. Pula dengannya kami akan mati penuh kerinduan terhadap kampung bapak kami, ‘adam alaihis salam. Ya, Allah sungguh salam malaikat mengiring para syahid di surgaMu, maka sempurnakanlah kenikmatan syahidnya. Kenikmatan syahid yang merasuki relung-relung jantung kami, membuka peluang bagi kami untuk menjadikan untaian generasi syahid berikutnya. Berkahilah, sempurnakanlah. Bi idznillah yaa Rabb, aamiin insyaAllah.

Friday, December 23, 2011

Baru aku tahu

Ternyata cinta itu tali temali yang mengalir tanpa putus, dirajutkan untuk menghimpun hati yang beranak pinak jadi krisan merah saga, berani membara dan menunjukkan kekuatannya.
Ya, mungkin aku sekarang mengerti bagaimana cinta itu bercerita tentang dirinya. Bahwa putusan hadirnya adalah karena cinta sebelumnya. Merambat dan menanamkan akarannya di lahan kanan kirinya.

Maka katanya, tak anehlah bagi seorang nabi membenci kemusyrikan dan mencintai kesholehan. Sebab asal cintanya dari Allah azza wa jalla, digetarkan sebagai sebuah simultansi jurisprudence yang mengelebat dalam setiap tangkapan indera dan rangkaian pemikirannya, pemaknaannya.
Aih, aku mulai mengerti.

Maka seperti itu pulalah yang terjadi sebenarnya. Disuruh mencintai seseorang lalu aku mencintainya. Begitu saja, kan? sederhana. Aku mendefinisi lalu terdefinisi.

Sunday, December 18, 2011

Kisah HEROES!

Oleh : Alfajri

Di sebuah malam yang gelap, di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya yang butuh sinaran perbaikan. Sebuah sosok muncul menyisiri rumputan yang kedinginan, dilihatnya demokrasi tak beraturan, merah putih tanpa binaran dan refleksi bangsa masih pesimistis ketakutan. Fakultas Hitam Merah Putih, layaknya miniatur Yunani Kuno yang menjalani dinamisasinya menuju kisah-kisah para HEROES! Disana pula ditemui berbagai TROLL-BLEMAKER dalam berbagai varian, aktivator-aktivator oligarkis-primordial dan aktor-aktor penceng lainnya.


Ide sinergisitas dan progresitas masif berkelebat dalam jiwa HEROIKnya, memacu setiap derap langkah dalam perjuangan nafas, pergi dan kembalinya di bawah sadar dan keadaan. RENDY IVANIAR, membumikan diri dengan segudang pencapaian kapabilitas dan energi kerendahatian sepanjang hari-harinya di Fakultas Hukum Universitas Brawijaya, Fakultas Hitam Merah Putih.

Sementara itu di malam lainnya, BAGUS as BATMAN terbang tinggi menelusuri jejak-jejak renungan RENDY IVANIAR, sehingga ia pijakkan kerja tanpa ampun dalam setiap gelap yang ditemuinya, menempa diri dengan ketangguhan dan perjuangan. Sendiri, sebelum ditemuinya sosok WONDER DILA yang menunjukkan kredibilitas tanpa batas, tegas dan cerdas. Keduanya masih menyimpan harapan yang mendalam, seraya terus disaksikannya Fakultas Hitam Merah Putih.

Maka datanglah seorang SUPER YOGA yang menguatkan mereka dengan daya super yang terus SIAGA tanpa kenal lelah berkontribusi maksimal, ujarnya, tak akan jadi mahasiswa apatis, hedonis dan primordial. Diserukannya ke segala penjuru Fakultas Hitam Merah Putih. Hingga bergoncang hukum lintas dunia, saat disaksikannya NOVADA as PETERPAN turun dari dimensinya, menjadi sebuah hal nyata, membangkitkan kembali semangat dan jiwa muda yang menginspirasi, dalam doa dan keajaiban. Ia yakin akan perubahan. Masih terus dalam impian sinaran perbaikan, terus mereka saksikan RENDY IVANIAR berproses menuju kematangan yang menakjubkan, membentuk simpul simultansi RESPECTFUL yang tak terelakkan.

Ya, hingga jadi begitu hangat dan bersahabat, menempuh jalan amanah dan tanggung jawab. RAISTA as LARA CROFT tanpa ragu menyatakan bergabung untuk sebuah pertalian yang mapan sebagai tim kebenaran. Sebab ia telah pula melalui masa penjelajahannya, to overcome the con. Senjatanya jadi masif di genggaman, melindungi siapa saja yang tersakiti di Fakultas Hukum, Fakultas Hitam Merah Putih. Hingga cahaya biru berkelebat dan mengisyaratkan bahasa pertemanan, tanpa memandang asal dan latarbelakang, dalam sebuah bingkai kebaikan, INVISIBLE APRILIA menjadikan segalanya mungkin terwujudkan. Pribadi tegas dan tanggap, percaya bahwa mulai dari sinilah sinaran Fakultas Hukum Univesitas Brawijaya akan ditemukan.

Dengan dimensi perubahan, sahabat mereka BAHRUL as NEO MATRIX membawakan dimensi baru tentang konsep perjuangan dan arah gerak perubahan. Di tengah interaksi masifnya dengan RENDY IVANIAR, ia mempercayai bahwa sosok karibnya itu adalah bentukan pencahayaan EXTRAORDINARY SERVICES yang dibutuhkan Fakultas Hitam Merah Putih. Mereka akhirnya disatukan.

Hingga di malam lain yang gelap di Fakultas Hukum, terdengar sebuah pergerakan yang menghebohkan di luar ruang pertemuan. Sembilan HEROES itu sontak membuka pintu, namun hanya angin yang berhembus panjang... dingin menghunjam, lalu melayang suara di udara, meeeoonggg... IIS as CATWOMAN, menampilkan diri dalam jubah panjang hitam yang misterius, sarat refleksi keberaniannya yang semakin menyempurnakan pertalian tim kebenaran, HEROES yang kini cukup untuk memberikan sinaran bagi Fakultas Hitam Merah Putih.

Lalu berbincanglah mereka untuk menentukan langkah konkret selanjutnya.
Bahwa kepemimpinan adalah syarat dari sebuah bangunan visi dan misi perbaikan.
Maka naiklah RENDY IVANIAR sebagai PRESIDEN #1 .
Lalu mereka membuntuti sebuah tanggung jawab peradaban, beriringan, menjadi DEWAN SENAT MAHASISWA, RAISTA #4, BAHRUL #5, NOVADA #6, GANJAR #7, DILA #10, APRILIA #12, YOGA #16, IIS #18, dan BAGUS #19.

Dengan jiwa para HEROES, membersamai langkah Fakultas Hukum Universitas Brawijaya dalam JUSTICE LEAGUE!

HEROES!!! GO FIGHT WIN!

Tanggal 21 Desember jangan lupa pilih #1 saja untuk PRESIDEN FH UB. Jangan sampae kelewatan!
Dan temukan kepribadian HEROES-mu dengan memilih DSM #4, #5, #6, #7, #10, #12, #16, #18, atau #19. Yang penting, tetap SATU untuk RENDY saja yaaa :D

Sebab inilah, kesungguhan JUSTICE LEAGUE membawa jiwa HEROES bagi FH UB tercinta.
Gunakan hak pilihmu untuk keadilan, sobat! :)

Saturday, December 17, 2011

Renvoi

Apa yang kira-kira terpikirkan olehmu atas lembutan awan terbang yang hitam menghunjam. Seakan kau yakin di baliknya ada hujan, pula potensi getaran petir dan positif negatif muatannya. Sebab kini ia tak merasa lagi sebagai dirinya. Bagian dari entitasme dan frekuensi lamda mutlaknya. Warna-warna akhir dari cahaya, katanya akhiran dari tak ada cahaya. Awan yang hitam menghunjam, meracau dalam bait kelam soal malam, tak ada lagi yang lainnya.

Maka narasimua tentang bintang-bintang adalah kedurhakaan paling dalam yang sampai-sampai jemarimu mendustakan petaka di balik tersungkurnya awan-awan yang menitiskan hujan. Menghitung detak, detik dan ketukan jadi simfoni penuh arti. Awan hitam yang jadi dirinya. Bukan narasimu yang serta merta membuatnya terbang sebagai langit-langit, langit paling langit, langit-langit.

Temukan jatidirinya sebagai serpihan yang berarak dan menghilang. Untuk berpisah dan menemukan medium eternitasnya. Untuk sempurna dan mengalirkan uapnya. Untuk jadi dirinya. Untuk berpisah dan menemukan yang lainnya.

Saat bilangan kaca menampilkan sosok pudar warnanya. Dan tak ada cahaya, panjang lamda dari ketiadaan sempurnanya prisma merah senja, warna-warna akhirannya, berbaur jadi dirinya.

Aiiiih, gila durjana.

Sesempitnya nalar mempertalikan paradoksal dan dilema kolosal. Sejauhnya nuansa menyembuhkan fakta dari otoritas independensinya. Tanpa nyawa, berdiri jadi dirinya. Tanpa hikmah, berarak untuk menghilang dan menemukan medium eternitasnya, begitu saja. Tanpa hati, tak temukan warna-warna akhiran cahaya. Kerdil mendefinisi hitamnya. Sendiri merangkulkan lembutannya. Parsialisasi komunal frekuensi panjang cahaya. Di tepian. Untuk berpisah dan menyempurnakan.