Jadi begini, disini kau berkata begini lalu tinggal landas mengenangku sendiri. Jadi begini, disini kau memangku fajar hingga gemilang cahaya bertabur resapan intan angkasa. Sempurna, kau jadi begini.
Yang begininya seperti ini dan itu, cuma di perasan terakhir hippocampus yang menyeret panah-panah sentrifugal yang berlari ke ujung dunia, mengejarnya sampai jatuh saup jauh di hatinya. Ah, kau merajuk manja lagi. Mengapa tak dijadikan sepuh basi atas emas yang tak lagi mempan disebut emas, atau debu yang pantasnya menohok jambu-jambu, rambu-rambu bambu. Sempurna, kau jadi begini.
We were born for death
Katamu, kata-katamu begitu jadi begitu begininya. Seperti kau jadi tahu segalanya. Tentang dirimu. Tentang aku.
Katamu, kata-katamu begitu jadi begitu begininya. Seperti kau jadi cenayang di prosa-prosa cinta yang tak terdefinisikan bahasa manusia. Tentang aku, apakah dirimu.
Selepasnya pengadilan tata usaha negara kita membangun pion-pion kaca yang rapuh merana, kau tetap saja memainkannya. Sekarang jadi hancuran kotak hitam putih yang tak lagi membangun jiwa perkasa bila Laila ditemui Qais terkasihnya.
Saat Harry Potter mengetuk nada tongkat panjangnya, atau J K Rowling membuahkan hasil karyanya. Masing-masing kau dan aku punya diskusi rahasia di bawah selorok selimut kita. Sebelum ibumu atau ibuku datang dan memeriksa apakah aku dan kau sudah terlelap tidur. Kita berpura-pura.
Saat Gus Dur naik di pelantikannya tahun 1999, atau Amien Rais berdiri di tribun reformasi. Masing-masing kau dan aku punya janji setia di lelapan redup lampu belajar kita. Sebelum ayahmu atau ayahku mengangkat tubuh mungilku dan otak besarmu itu ke bawah selorok selimut kita. Kita jujur bercerita tentang segalanya.
Soal pusaka malin kundang waktu mengarungi samudra. Kau dan aku tak ingin jadi aku dan kau.
Tuesday, October 4, 2011
Pesona
Aku tak dapat menerka dengan leluasa. Tentang falsafah dugaanku yang paling asasi. Sebab prasangka ialah perkataan yang sedusta-dustanya. Pula bicaraku tak jadi vitamin yang menghindarkan aktivasi virus nalarku. Aku terpana.
Kini betapa ia riang gembira dalam rona bening wajahnya. Ah, bidadari surga. Kapankah kiranya katalisasi fana mengangkasa bersama tiupan sangkakala. Lalu jadi definan nuansa yang tak terdefinisi. Akhiran yang menyongsong tanpa akhir, di batas terminal yang tak ada lagi putar parkir.
Bahwasanya fir’aun mengakui juga kekeliruannya waktu garam menempel di batasan tenggorokannya. Pecahan pangkal dua udara di persemayaman gulita, terlambat sudah. Sebab kini ayat retoris itu sembilu mengiris jantungku, kita telah tahu yang pertama lalu mengapa tak belajar untuk transformasi lanjutannya?
Iya, manusia memang serba salah pula jadi serba benarnya. Kala sampai dentum tragedi atas darahnya, terhenti pula asupan oksigen ke otaknya, jadi gila. Kesana kemari mencari menang dan kalah. Lalu aku Cuma bisa kembali terpana.
Terpana, dibidik naluriah sinisme jembatan panjang yang melebar kemana-mana. Lewat mana?
Iya, T-E-R-P-A-N-A. Cuma menganga membasahi dengan sisa-sisa yang tersisa dalam intrik proporsional soal merah. Ini garisannya, usai itu ia bisa jadi merah-putih atau merah-kuning-hijau. Terserah kau.
Terkaanku memang tak dapatkan nada yang dimaksudkannya dengan seksama. Terlebih lagi dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Berkhayal saja, sebab merdeka bukan lagi tentang undang-undang dasar 1945. Dan akuisisi material dustanya jadi asasi formil ekstase yang luarbiasa. Merajalela.
Baiklah, kini ia tak ingin disebut kupu madu dan kupu-kupu sayap merdu. Sebab manisnya bukan kecup glukosa di titipan simbol-simbol ganasnya. Ini lagi-lagi bukan tentang pola pintu stomata atau restorasi kromosom manusia yang 23. Dinamisasi. Dimana problematika jadi arogansi sosial yang membajak kerja-kerja pilot project sederetan rasi. Tanpa saksi.
Sehingga transporter waktu mengetukkan denyutnya dalam hitungan lima jari. Habis itu, pergi berlari. Bosan. Jadi sebuah paradoxal norm yang mencari pamit tanpa permisi. Dibebaskan, tutur kata tak lagi menuansa menghebatkan.
Lagi-lagi, jadi sejenis overdosis di penghujung perobatan keadilan yang basa-basi. Lagi-lagi, memang sakit yang sedusta-dustanya prasangka asasi. Caci maki.
Saturday, September 24, 2011
Honestly, is not you
Someone precious is a person you will never know why'd she/he could on that precious word. Someone precious is a mother or father whom the blood was on your atrium right now. Someone precious, maybe just somebody perfectly make you drowning on a missing. Someone precious? maybe... actually you do not have anyone precious.
Precious was the name mostly wanted in this world. It just a mean which concept a big accidentally tragedy which will always set you as the left out rubbish.
Honestly, is not you.
Precious was the name mostly wanted in this world. It just a mean which concept a big accidentally tragedy which will always set you as the left out rubbish.
Honestly, is not you.
Friday, September 23, 2011
Flew away
Daddy I just love you. I'd know it before I know what love is. And I never hate you ever after, just like I said. Daddy I just missing you. I'd sure it before my mother tell me about you. And I never forget all the things you said, though you not said it for me. Daddy, why'd I always thinking about you. Daddy, your name was inspected my heart like a police do to the prisoner in a jail.
As I sent this day to not left you away on my mind, As I flowing into the rest of my own scared
As I hope you know me like the day we met in the airport
You will never be the other daddy
You will be like you, like everyone knowing you as someone named by your name,
As I sent this day to not left you away on my mind, As I flowing into the rest of my own scared
As I hope you know me like the day we met in the airport
You will never be the other daddy
You will be like you, like everyone knowing you as someone named by your name,
Thursday, September 22, 2011
Don't have to paid for everything except a thing!
By : Alfajri
Life was the lived out to feel alive on it. So on this spot, isn't it sooo brave to call our name for that live-the-life?
I have listen many Avril's song or Bieber, lol (honestly I said it as the truth what-being-happened-on-me). And MCR? And Kort, and Click Five? exactly what a lol me.
That song was never hurt me as the life I feel hurted. Back on it, I just thinking that people acctually wanted to found their self on the other sound and drama. We just keep trying enjoy our life to be alive. As Shakespeare wrote on his paper, and as Monalisa spread out on canvas, our illumination of 'enjoy-our-life' was perfectly entering people on the more hurted it can be.
That song was never hurt me as the life I feel hurted. Back on it, I just thinking that people acctually wanted to found their self on the other sound and drama. We just keep trying enjoy our life to be alive. As Shakespeare wrote on his paper, and as Monalisa spread out on canvas, our illumination of 'enjoy-our-life' was perfectly entering people on the more hurted it can be.
And I just.. nothing. I just thinking and the publishing. Honestly is not to show that I'm in but to perform that I'm in. Is that weird or something like that? I'd also always define myself as it. (laughing out laugh)
And I'm fine. So what life could bring - a copied of Avril's song on I will be - just what we could paid for it. It seems like 'ay!" what a pic me... Have your great day everybody! :)
Monday, September 19, 2011
Revolusi Ilalang
Revolusi Ilalang
oleh : Alfajri
Aku mulai berani berkata "aku". Sebuah titian dalam rujukan khas diriku. Sebuah langkah-langkah biru yang melukis pelangi unitas hati yang masif membatu. Dan ia, "aku" jadi seseorang yang lain yang tak merangkum kata-kataku.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Itik kecil mendayu darat dari cangkang cicitnya
Menetaskan dirinya dalam nyawa hidup pribadinya
Itik kecil mencari makan di rumputan ilalang
Sebab cangkang akan patah bila diinjak kaki
Dan ia menyelamatkan sekujuran sendirinya
Maka
kabarkan kepada kaum pengemis dan gelandangan
karena koruptor masih bebas gentayangan
karena hukum sulit ditegakkan
karena keadilan niscaya digadaikan
maka yakinlah, tuhan akan melaknat mafia peradilan
dan kaum revolusioner tak 'kan tinggal diam
menyeret koruptor ke tengah lautan
untuk ditenggelamkan!
Oleh sebabnya kau ada disini
karena pengemis keadilan ada sisian kanan kirimu
Oleh sebabnya jiwa bangsamu merah putih
karena lalulalangnya para hati jalang bebas menutrisi hingga ke dalam-dalamnya sanubari
karena revolusi selalu digemakan
karena revolusi sekedar basa basi di busa-busa bisa para diktatoral sasana
Revolusi ilalang
Sementara itik kecil masih mencari-cari jati diri
Ini perihal suara binatang lain
Yang lebih tinggi dari ilalang kiri
Sejatinya awan putih berserak seragam mewarnai
Itik kecil masih menyelamatkan dirinya sendiri
Maka
kabarkan kepada para janda di rumah-rumah singgah
kabarkan kepada para tuna wisma yang tak lagi kenal bahasa alfabetmu
karena katanya mereka sekedar wanita tua renta
karena katanya mereka tak lagi bisa apa-apa
Sampah! Masalah negara
maka yakinlah, tuhan akan melaknat para dukun yang mendekatkan kecurangan dalam akar nadi para culas
dan kaum revousioner tak akan tinggal diam
menyeret para culas sesumbar ke tengah lautan
untuk ditenggelamkan!
Oleh sebabnya kau ada disini
karena rumah-rumah singgah itulah dirimu juga
Oleh sebabnya kini garudamu kalah tinggi dari satelit satelit NASA
karena berbicaranya para naif, bebas menutrisi hingga ke dalam-dalamnya sanubari
karena revolusi selalu digemakan
Revolusi ilalang
Bukan, bukan revolusi ilalang dari mata-mata kotor para mata yang sok berkuasa
Bukan, bukan revolusi ilalang yang terbang jauh sendirian
Bukan, bukan revolusi ilalang
Bukan revolusi ilalang yang runtuh penghabisan masa berlakunya hijau muda
Bukan revolusi ilalang di perbatasan merunduknya dilematika kuning tua
Oleh sebabnya kau ada disini
Sesegeranya itik kecil menahan patri di hatinya
Sesegeranya itik kecil memecahkan cangkang dengan independensi injakan kaki
Sesegeranya dirimu bangkit dan bersuara, HIDUP MAHASISWA!
oleh : Alfajri
Aku mulai berani berkata "aku". Sebuah titian dalam rujukan khas diriku. Sebuah langkah-langkah biru yang melukis pelangi unitas hati yang masif membatu. Dan ia, "aku" jadi seseorang yang lain yang tak merangkum kata-kataku.
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Itik kecil mendayu darat dari cangkang cicitnya
Menetaskan dirinya dalam nyawa hidup pribadinya
Itik kecil mencari makan di rumputan ilalang
Sebab cangkang akan patah bila diinjak kaki
Dan ia menyelamatkan sekujuran sendirinya
Maka
kabarkan kepada kaum pengemis dan gelandangan
karena koruptor masih bebas gentayangan
karena hukum sulit ditegakkan
karena keadilan niscaya digadaikan
maka yakinlah, tuhan akan melaknat mafia peradilan
dan kaum revolusioner tak 'kan tinggal diam
menyeret koruptor ke tengah lautan
untuk ditenggelamkan!
Oleh sebabnya kau ada disini
karena pengemis keadilan ada sisian kanan kirimu
Oleh sebabnya jiwa bangsamu merah putih
karena lalulalangnya para hati jalang bebas menutrisi hingga ke dalam-dalamnya sanubari
karena revolusi selalu digemakan
karena revolusi sekedar basa basi di busa-busa bisa para diktatoral sasana
Revolusi ilalang
Sementara itik kecil masih mencari-cari jati diri
Ini perihal suara binatang lain
Yang lebih tinggi dari ilalang kiri
Sejatinya awan putih berserak seragam mewarnai
Itik kecil masih menyelamatkan dirinya sendiri
Maka
kabarkan kepada para janda di rumah-rumah singgah
kabarkan kepada para tuna wisma yang tak lagi kenal bahasa alfabetmu
karena katanya mereka sekedar wanita tua renta
karena katanya mereka tak lagi bisa apa-apa
Sampah! Masalah negara
maka yakinlah, tuhan akan melaknat para dukun yang mendekatkan kecurangan dalam akar nadi para culas
dan kaum revousioner tak akan tinggal diam
menyeret para culas sesumbar ke tengah lautan
untuk ditenggelamkan!
Oleh sebabnya kau ada disini
karena rumah-rumah singgah itulah dirimu juga
Oleh sebabnya kini garudamu kalah tinggi dari satelit satelit NASA
karena berbicaranya para naif, bebas menutrisi hingga ke dalam-dalamnya sanubari
karena revolusi selalu digemakan
Revolusi ilalang
Bukan, bukan revolusi ilalang dari mata-mata kotor para mata yang sok berkuasa
Bukan, bukan revolusi ilalang yang terbang jauh sendirian
Bukan, bukan revolusi ilalang
Bukan revolusi ilalang yang runtuh penghabisan masa berlakunya hijau muda
Bukan revolusi ilalang di perbatasan merunduknya dilematika kuning tua
Oleh sebabnya kau ada disini
Sesegeranya itik kecil menahan patri di hatinya
Sesegeranya itik kecil memecahkan cangkang dengan independensi injakan kaki
Sesegeranya dirimu bangkit dan bersuara, HIDUP MAHASISWA!
Annual defense
Kadang kesombongan memang jadi momok yang begitu menjeramu dengan begitu hinanya. Liar menjamu di rumah-rumah setan-setan yang binasa terbinasakan. Jauh dari rahmat pula rahiim yang dimimpikan jejak kaki Hawa ketika diturunkannya ke tanah.
Aiih gila merajalela. Pula tak ada transliterasi bahasa mutlaknya. Yang kau pikir sempurna bagi tendensi kata-katamu waktu itu. Sebelum jadi bunga di tepian jelanta, lalu lalang ilalang terbang. Mengawan seadanya basi yang disegarkan. Pilihan.
Dan aku ingin pulang, sejatinya kepergian yang hanya jalan yang sampai di penghujung rantai. Dengan berwibawa tak membawa apa-apa.
Dan aku ingin pulang, sejatinya perjalanan hanya perginya induk di pagi hari. Dengan tenang tanpa risi bising suara siapa-siapa.
Dan aku ingin pulang, sejatinya datang ialah mengucap salam dan penuh senyum bangga orangtuaku. Walau tak begitu, walaupun begitu jauhnya dari mimpinya alam-alam nyata.
Biarkan mereka terkesan, terkesan dengan kosong binaranmu. Lalu kau bisa pulang tanpa apapun di sisianmu, tanpa pula suara dan senyum bangga itu.
Sebab biasannya tak lagi jadi seindah prisma mata air cinta. Sebab bengkoknya tak terluruskan di nyanyi belalang dan konser semut jangkriknya. Sekedarnya saja.
Aiih gila merajalela. Pula tak ada transliterasi bahasa mutlaknya. Yang kau pikir sempurna bagi tendensi kata-katamu waktu itu. Sebelum jadi bunga di tepian jelanta, lalu lalang ilalang terbang. Mengawan seadanya basi yang disegarkan. Pilihan.
Dan aku ingin pulang, sejatinya kepergian yang hanya jalan yang sampai di penghujung rantai. Dengan berwibawa tak membawa apa-apa.
Dan aku ingin pulang, sejatinya perjalanan hanya perginya induk di pagi hari. Dengan tenang tanpa risi bising suara siapa-siapa.
Dan aku ingin pulang, sejatinya datang ialah mengucap salam dan penuh senyum bangga orangtuaku. Walau tak begitu, walaupun begitu jauhnya dari mimpinya alam-alam nyata.
Biarkan mereka terkesan, terkesan dengan kosong binaranmu. Lalu kau bisa pulang tanpa apapun di sisianmu, tanpa pula suara dan senyum bangga itu.
Sebab biasannya tak lagi jadi seindah prisma mata air cinta. Sebab bengkoknya tak terluruskan di nyanyi belalang dan konser semut jangkriknya. Sekedarnya saja.
Subscribe to:
Posts (Atom)