Waktu itu aku pernah bertemu denganmu dalam mimpi. Kadang sekedar tersenyum kadang tertawa. Entahlah bagiku kau begitu menyenangkan. Representasi sebuah keluhuran akhlak.
Aku cuma sekedar iri, melihat bahwa setiap orang punya kelebihan.
Intinya kamu begitu menyenangkan. Tanpa dusta, bicara seadanya saja, tapi baik untuk di dengar, menutrisi.
Intinya kamu begitu nyaman. Tanpa menyembunyikan, melucu sesuai fitrah saja, sederhana.
Ada juga beberapa orang di sekeliling kita. Mereka duduk di kursi yang dekat. Ikut alur kisah, ikut juga serius mendengarkan kemanjaanku. Ah, tapi kenapa mereka diam? Ah, tapi kenapa mereka diam saja?!
Waktu-waktu berderit, bahwa selain kau, ada aku, ada mereka juga ! Ah, tapi kenapa mereka diam?
Sunday, December 9, 2012
Monday, December 3, 2012
Sahabat
Sahabat, entah wajar atau tidak
Aku telah habis daya menjadi sisi kanan dan kirimu
Telah habis kepercayaan untuk saling bertumpu
Sebab mungkin aku tak mengeti bahwa kau tak begitu seperti yang ku pikirkan
Aku juga beberapa kali hilang ingatan
Lupa namamu, lupa wajah dan alamat identitasmu
Lupa bahwa aku tengah duduk di sampingmu
Atau kau tidak ada saat itu
Aku juga telah habis ingatan
Sakit setiap kali tahu aku harus menemuimu
Aku tidak rindu
Rindu kau tapi tak rindu bicara denganmu
Bagiku semua ini jadi ilusi yang memberatkan hatiku
Bahwa ada dan tidaknya dirimu begitu sakral
Harus lewat beberapa ritme dan ritual
Mendengarmu, tersenyum, diam
Aku bahagia untuk jadi bagian darimu
Tapi aku telah habis daya
Tak ada lagi kepercayaan diriku
Bahkan untuk tiba-tiba datang menghampirimu
Kurasa aku terlalu memaksa
Memaksamu
Memaksaku untuk mampu melakukan sesuatu
Yang tidak mungkin bisa kulakukan
Selesai saja,
Berhenti saja,
Cukupkan,
Ketika selesai
Ketika telah tertuntaskan
InsyaAllah
Tak untuk sebuah keistimewaan
Bahkan hanya sekedar kehinaan
Tak untuk sebuah kenangan
Menyelinap saja
Aku telah habis daya menjadi sisi kanan dan kirimu
Telah habis kepercayaan untuk saling bertumpu
Sebab mungkin aku tak mengeti bahwa kau tak begitu seperti yang ku pikirkan
Aku juga beberapa kali hilang ingatan
Lupa namamu, lupa wajah dan alamat identitasmu
Lupa bahwa aku tengah duduk di sampingmu
Atau kau tidak ada saat itu
Aku juga telah habis ingatan
Sakit setiap kali tahu aku harus menemuimu
Aku tidak rindu
Rindu kau tapi tak rindu bicara denganmu
Bagiku semua ini jadi ilusi yang memberatkan hatiku
Bahwa ada dan tidaknya dirimu begitu sakral
Harus lewat beberapa ritme dan ritual
Mendengarmu, tersenyum, diam
Aku bahagia untuk jadi bagian darimu
Tapi aku telah habis daya
Tak ada lagi kepercayaan diriku
Bahkan untuk tiba-tiba datang menghampirimu
Kurasa aku terlalu memaksa
Memaksamu
Memaksaku untuk mampu melakukan sesuatu
Yang tidak mungkin bisa kulakukan
Selesai saja,
Berhenti saja,
Cukupkan,
Ketika selesai
Ketika telah tertuntaskan
InsyaAllah
Tak untuk sebuah keistimewaan
Bahkan hanya sekedar kehinaan
Tak untuk sebuah kenangan
Menyelinap saja
Thursday, November 29, 2012
SEMANGAT ^-^
Bertubi-tubi datang menghampiri. Mungkin karena gelas yang kosong atau mimpi-mimpi yang menghantui. Ah, jadi takut untuk tidur. Perlu diterapi atau diebrikan obat penenang depresi.
Trauma. Trauma karena lemahnya iman. Ya, ini soal hakekat, substansi katanya.
Bukan itu, bukan begitu maksudnya. Bukan benteng atau sakit karena diterobos.
Malu karena disalahpahami tapi juga tak punya kata-kata untuk membuat bayanat panjang lebar.
Bukan berarti tidak setuju atau mendadak gengsi. Tapi, tapi sekedar kaget. Manusiawi bukan. Berharap dan kecewa pada diri sendiri.
Sebab ketika orang lain melakukan sesuatu. Saya tidak mampu.
Berlari kesana kemari dan akhirnya cuma bertemu Abid lagi.
Trauma. Trauma karena lemahnya iman. Ya, ini soal hakekat, substansi katanya.
Bukan itu, bukan begitu maksudnya. Bukan benteng atau sakit karena diterobos.
Malu karena disalahpahami tapi juga tak punya kata-kata untuk membuat bayanat panjang lebar.
Bukan berarti tidak setuju atau mendadak gengsi. Tapi, tapi sekedar kaget. Manusiawi bukan. Berharap dan kecewa pada diri sendiri.
Sebab ketika orang lain melakukan sesuatu. Saya tidak mampu.
Berlari kesana kemari dan akhirnya cuma bertemu Abid lagi.
Bukan Pidato
Aku tahu bahwa untuk saling mencintai kita harus saling mengagumi. Entahlah, bahwa setiap kali orang terpesona denganmu itu sama artinya iya atau tidak. Tapi aku, iya. Bagiku ini juga yang menjadi sebab kau tak banyak mencintai. Bahwa bagimu, sama saja. Aku atau yang lainnya.
Termenung. Makan roti keju sambil main harvest moon.
Suatu hari kau harus benar-benar terkagum-kagum. Bukan karena shirah atau tulisannya tapi dirinya. Bukan sekedar tahu ilmunya. Tapi harus dipaksakan.
Ngomong apaan.
Mungkin saat ini sunia baik-baik saja. Tapi nanti, tidak lagi. Bertemu dan ditemui. Baik sengaja ataupun tidak. Bukan substansi lagi. Ini soal menerobos, melihat sesuatu dengan sempurna.
Tidak ada yang sempurna. Apa yang harus diterobos?
Penyakitmu. Tidak perlu buat timbangan atau tabel. Allah yang menjamin segala sesuatunya ada baik dan buruk. Bukan kamu. Supaya semua orang dapat dengan mudah masuk. Supaya semua orang tidak perlu penasaran. Kasian.
Siapa yang dikasihanin?
Ya, anti lah! Masa mereka? haha..
Renyah
Termenung. Makan roti keju sambil main harvest moon.
Suatu hari kau harus benar-benar terkagum-kagum. Bukan karena shirah atau tulisannya tapi dirinya. Bukan sekedar tahu ilmunya. Tapi harus dipaksakan.
Ngomong apaan.
Mungkin saat ini sunia baik-baik saja. Tapi nanti, tidak lagi. Bertemu dan ditemui. Baik sengaja ataupun tidak. Bukan substansi lagi. Ini soal menerobos, melihat sesuatu dengan sempurna.
Tidak ada yang sempurna. Apa yang harus diterobos?
Penyakitmu. Tidak perlu buat timbangan atau tabel. Allah yang menjamin segala sesuatunya ada baik dan buruk. Bukan kamu. Supaya semua orang dapat dengan mudah masuk. Supaya semua orang tidak perlu penasaran. Kasian.
Siapa yang dikasihanin?
Ya, anti lah! Masa mereka? haha..
Renyah
Friday, November 23, 2012
Ilalang
Sebab tulisanku tak lagi berharga.
Sayap ilalang. Sayap terbang tanpa kekuatan.
Sayap ilalang. Ilalang terbang tanpa arahan.
Sayap ilalang. Terbang. Angkasa pudar meracau sendirian.
Ini tentang sayap ilalangku.
Dijadikannya sayap ilalang sungguhan.
Gila durjana. Mati durhaka sampai ke akar-akarnya.
Aku tak terpesona tapi jatuh tanpa makna. Ke tanah.
Tentang sayap ilalangku.
Dijadikannya sayap ilalang sungguhan.
Sebab tulisanku tak lagi berharga.
Putih ilalang. Putih merona tanpa warna.
Putih ilalang. Ilalang merona tanpa kecendrungan apa-apa.
Putih ilalang. Noda. Kecil menghilang meracau sendirian.
Ini tentang putih ilalangku.
Dijadikannya putih ilalang sungguhan.
Mesra. Lembutan asa menarik segalanya tanpa permisi.
Aku tersihir setiap kali hampir menyihir kembali
Pergi, pergi ke lain ruang dan waktu.
Tuesday, November 13, 2012
Reasonable touch
Kadang kita tak pernah
tahu mengapa suatu kejadian konyol terjadi tepat di depan kedua mata kita. Sama
halnya seperti saat ini. Seketika saja saat aku membuka mata dan seluruhnya
berwarna putih. Seakan tanpa dimensi, tak melayang, tak terbang tak juga berpijak
di lantai. Aku mendefinisi sesuatu yang indefinites,
keberadaan dalam ketiadaan dan perwujudan tanpa perasaan. Aku samasekali tidak
meracau karena kebingungan, tak juga ketakutan, tidak senang juga tidak
berpemikiran. Aku bukan aku yang melihat luaranku, luaran dari injeksi
lingkungan, aku benar-benar melihat diriku di kejauhan.
Anakku, seketika saja benakku memanggil instalasi
warasku untuk kembali dalam tubuh yang tak terbang dan tak melayang itu. Satu
kali saja, satu kali saja aku ingin kembali untuk bertemu anakku.
xxxxx
“Apa yang biasa kau
sebut sebagai cinta? Apakah itu berdebarnya jantungmu atau rasa kasih dalam
kegiatan social? Bagiku cintaku
adalah kamu. Anakku.” Ujarnya setengah meracau.
Matanya masih terkatup
berat, alir infuse masih gencar melewati demarkasi darah dan cairan tubuhnya.
Aku tekapar dalam dudukku. Betapa aku jadi tersangka paling bersalah, hampir
diseret di meja pidana. Aku Cuma seorang mahasiswi yang bahkan tak pernah
tertarik untuk berpikir apa itu cinta sebenarnya. Mendengar istilah itu malah
membuatku jadi ingin tertawa, tak perlu tahu apa itu, tema di setiap drama.
Aku suka berkata-kata
rumit. Ya, sejujurnya bukan karena aku suka. Tapi karena seperti itulah, kau
akan segera tahu jika kedua orangtuamu tidak berkewarganegaraan sama dan
memiliki mental buku tebal yang super gila. Satu istilah kajian, dua istilah
dan seterusnya, menumpuk jadi theoritical
assumption yang membuatku sedari
kecil jauh dari kehidupan nyata. Bahwa air mengalir dengan sifat begini
dan begitu tak sempat membuatku berpikir
sesederhana, air di rumahku berwarna merah muda karena wadahnya. Aku kehilangan
kreativitas sejak batita dan gigiku tidak menggigit selain yang bertuliskan
“boleh digigit”. Gila. Hidup yang sia-sia.
Sejak kapan aku peduli
dengan ibuku?
Pertanyaan semacam itu
jadi membuatku lebih galau lagi. Tahun depan aku akan lulus dari fakultas hukum
lalu kuliah keluar negeri. Mungkin ke Kanada atau bisa juga ke Amerika. Aku tak
terlalu suka orang-orang Asia. Munafik, kebanyakan budaya.
Orang sepertiku,
pantasnya dihukum gantung saja. Tidak berguna. Tidak bermoral. Kehilangan akal
sehat dan yang paling penting tidak berbakti pada orangtua.
Pernahkah kalian tahu
bahwa satu dosa akan berlanjut pada dosa lainnya? Dosa besar yang berlanjut
pada dosa besar lagi? Itu semacam simultansi balasan perbuatanmu. Jauh di dalam
diriku, aku tak tahu jati diriku, kehabisan kepercayaan, lupa bagaimana rasanya
mampu melakukan sesuatu.
Dosa yang pertama
karena tak bersyukur dengan setting
hidupku, berlanjut jadi dosa memusuhi dan dimusuhi teman-teman sekolah dasar.
Berlanjut jadi dosa ketersingkiran karena menyingkirkan diri sendiri. Jadi dosa
yang lebih besar lagi, mengatakan ini dan itu, tidak sopan terhadap orangtua,
bersikap egois dan mahir menggunakan pembelaan dosa. Itu kulminasinya. Mahir
menggunakan pembelaan dosa di hadapan orang lain, poros dosa yang paling
berdosa. Aku Cuma seorang pendosa. Jadi monster konyol yang berlagak tahu
segalanya. Haha.
Keberadaan orang lain
di dunia ini, bagiku sangat mengganggu. Aku tak suka berhadapan dengan mereka.
Tidak tertarik untuk bersahabat, sekedar berpikir untuk mengambil keuntungan
lewat profesionalitas dan kemapanan kerja. Mereka begitu mengganggu. Termasuk
denganmu, berurusan denganmu hanya memperkuat kehinaanku saja. Satu pertemuan
berlanjut dengan pertemuan lainnya. Kita tak perlu rela mati untuk bertemu.
Sebab selalu akan ada pertemuan setiap hari. Ini setting kehidupan modern. Maka
bagiku, ada baiknya untuk rela mati agar tak bertemu.
Aku bukanlah orang
yang dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat. Tulisan ini dan itu. Pemikiran
ini dan itu. Siapakah yang membutuhkan sesuatu yang tidak kontekstual? Aku Cuma
rubah yang mengkhianati keterbelakanganku sendiri. Berlagak tahu segalanya yang
tak pernah ku sentuh bagian terdalamnya, pemikiran mereka tentangku. Aku cukup
menganggu bukan?
Aku ingin punya
sesuatu yang dapat dibanggakan. Mengerjakan sesuatu dengan benar. Tak perlu
pujian, biasa saja. Bahwa aku dapat melakukannya. Entah, aku rindu ibuku, aku
tak pernah dibiarkan mengerjakan apapun di sisinya. Supaya tak ada orang yang
tahu bahwa aku Cuma bisa berpikir dan membaca buku saja. Aku rindu ibuku,
setidaknya setelah aku berlari kesana kemari dan tak menemukan yang selainnya.
xxxxx
Jalan raya kota malang
searah memberiku inspirasi soal keterbelakanganku. Bahwa aku tidak mampu
berkerjasama atau jadi pimpinan, jadi yang dipimpin? Asal dari ketidakbecusanku
membangun kompetensi diri. Aku tak bertemu orang kecuali mengecewakan mereka.
Ya, bertemu mereka semakin mengukuhkan kehinaanku saja.
Aku suka bertengkar,
tidak penurut, berkata-kata menyakitkan. Ah, buruk.
Tidak ada masalah yang terlalu besar untuk dipecahkan bukan? Pasti ada
jalan, dimanapun itu. Kita hanya perlu mencari peruntungan, semacam itu.
Kata ayahku.
Tidak, aku sekedar
ingat kejadian beberapa tahun lalu, di kelas bahasa Indonesia ketika aku SMA.
Masing-masing dari kami mengerjakan sebuah esai. Lalu datanglah hari penilaian,
dan seorang anak dipanggil untuk membacakan karyanya, sebuah narasi tentang
pentingnya membaca buku yang ditransliterasi jadi vitamin pikiran. Sederhana,
menarik. Aku tidak.
Di belakang itu, usai
jam pelajaran, guruku mengajakku bicara secara pribadi, katanya, “Nak, ini
tulisan kamu beneran?”
“Iya bu, coba aja ibu
cari di google, itu ada di blog saya sejak 3 bulan lalu.”
“Selamat, nilai kamu
tertinggi di kelas, saya berikan, 98” ujarnya sambil tersenyum berbinar
“Bukannya Hadi yang
nilainya tertinggi? Tadi ibu bilang gitu,”
“Bukan, saya hanya
berpikir bahwa akan sia-sia membacakan ini di kelas, saya rasa tidak akan ada
yang mengerti. Mungkin kamu satu-satunya anak SMA yang pernah membaca naskah
Shakespare dan memperhatikan pemikiran Schumann. Saya membutuhkan waktu 3 jam
untuk benar-benar memahaminya, mungkin karena saya sudah tua juga, hha. Realis,
romantic? Aliran seni, kamu terlalu berlebihan. Tapi itu jenius.”
Seperti virus
masyarakat, jenius tapi berlebihan, tidak akan ada yang mengerti, jadi alasan
pembohongan. Jiwaku mati seketika itu juga.
Tamat.
xxxxx
Belum tamat.
Sebab
aku belum wafat dan tidak akan bunuh diri.
Kita bicara tentang
hal lain saja. Lain kali.
Sunday, November 11, 2012
Sebuah Pidato
Sebab malam kemarin seorang sahabat kembali mengingatkanku soal kesombongan. Tiba-tiba saja. Mimpiku malam ini seluruhnya full episode tentang sidang dan hari itu.
Ya, ini tentang kesombongan, juga tentang pidato panjang lebar dari abangku. Sore, di sebuah ruang sidang di Ciputat. Setelah beberapa paman dan kakek berumur 35 - 70 tahun menghampiriku dan mengucapkan, "barakallahu.." sambil tersenyum dan berlalu.
Abangku satu-satunya, berdiri dari kursinya yang di ujung meja di seberangku. "Barakallahu," katanya, lalu mengambil posisi duduk di sisi kananku. Dan aku, tak pernah menyela bicaranya, bukankah itu luarbiasa?
Katanya,
Apa manuver selanjutnya ibu pimpinan sidang? (menyindir) Apakah tidak sebaiknya kita putar kembali nalar dan berkeputusan ulang? Ini bukan hanya karena anti jadi pembicara termuda di agenda internasionalnya Al azhar minggu lalu atau karena IQ anti dua kali lipat dari kami disini kan?
Siapa juga orang yang mampu untuk tidak sombong. Empatbelas tahun dan hafidzoh, cumlaude di sidang fikrah dan punya orangtua yang bukan orang biasa. Ya, siapa juga yang mampu untuk tidak sombong. Paling dicintai sekaligus didengarkan kata-katanya. Siapa yang mampu untuk tidak sombong? Jadi adik kesayangan, selalu mampu mengulang notulensi dengan error yang paling minim di antara kami? Siapa yang mampu?
Abang kira orang sepertimu tidak mampu kan?
Sarkas. Beberapa wajah berpaling ke arah kami. Sembari katanya, "hmm, lagi dimarahin lagi,".
Jembatan, sandaran dan arahan. Masih tentang kesombongan dan pidato panjang lebar abangku satu-satunya.
Dalam beberapa kasus seorang muslim tidak perlu tahu banyak hal tentang keimanan. Untuk beriman. Lain kali, ia tak perlu tahu banyak fiqih untuk mengerti, tentang syar'i. Banyak orang yang tak banyak mengetahui agama, tapi membelanya. Bahkan Musa tak diperbolehkan bertanya, pada Harun gurunya. Bukankah itu istimewa?
Lalu kenapa seorang anak disini, berlagak tahu tentang segalanya? Bersikeras tahu sebelum memegangnya? Tidak ada lagikah nalar tsiqoh dalam Qur'an yang dihafalkannya?!
Nadanya meninggi dan aku pura-pura tak tahu ekspresi wajahnya. Menakutkan. Sebab orang seperti itu, ketika marah mengutip AlQur'an dan saat bernada tinggi, merendahkan orang dengan ruhiy, tanpa tendensi. Aku ingin jadi seperti abangku. Punya mental seperti itu, tulus dan tanpa topeng. Cerdas tanpa harus tes IQ per enam bulan. Kedua orangtuanya baik, setiap hari ada sarapan bersama dan gelak tawa penuh hikmah, keluarga.
Kesombongan itu membakar kayu sampai jadi debu. Hilang segala cerdas dan ketekunan.
Tidak perlu kemampuan unuk jadi sombong, cuma perlu sedikit hasutan setan, kepada orang yang dibutakan penglihatannya. Menolak kebenaran, merendahkan orang.
Terkadang melihat nyamuk sebagai belalai gajah atau leher jerapah. Kadang melihat kegagalan sebagai ketidakpatuhan orang.. Anti bukan tuhan.
Gila. Masih sakit hati sebenarnya. Tapi ingatan seperti ini mungkin hanya tiba-tiba ada di pagi ini. Gajah dan Jerapah. Itu bagian lucu. Aku tertawa kecil, meremehkan analoginya yang kacau. Ia juga berpaling ke belakang, mungkin tertawa juga. Tudingannya jadi semakin menusuk walaupun tidak menyakitkan.
Beberapa ustadz kami dan musyrifahku menganggap kami punya banyak kemiripan. Kecuali satu hal itu, miliknya, kekacauan analogi. Dan satu hal lagi, milikku, tingkah kekanakan. Gaya bahasa, intonasi suara, permainan logika, puisi favorit, model tulisan, kesukaan makanan, orientasi obrolan, pandangan shirah dan fikrah, hafalan, ibadah harian, persis. Kami selevel tapi bedanya, ia lebih tua 4 tahun. -.-"
Karena sombong itu berasal dari hati yang sakit. Tidak perlu banyak hal hebat untuk sombong, sekedar lupa bahwa adik akan terkalahkan dengan orang lain, bahwa setiap orang memiliki keistimewaan. Mungkin disanalah awal hasutan setan. Untuk mendengarkan, untuk tidak mengacuhkan. Bicaralah atau diam.
Suatu hari ketika saya tidak ada lagi, anti akan banyak terkalahkan, oleh kesombongan adik sendiri. Karena adik begitu rumit dan anti tidak mampu menganggap orang lain dengan lebih dan lebih lagi. Sebelum itu terjadi, mungkin ini terakhir kalinya ada nasehat seperti ini.
Karena itu memang nasehat terakhir. :)
Ya, ini tentang kesombongan, juga tentang pidato panjang lebar dari abangku. Sore, di sebuah ruang sidang di Ciputat. Setelah beberapa paman dan kakek berumur 35 - 70 tahun menghampiriku dan mengucapkan, "barakallahu.." sambil tersenyum dan berlalu.
Abangku satu-satunya, berdiri dari kursinya yang di ujung meja di seberangku. "Barakallahu," katanya, lalu mengambil posisi duduk di sisi kananku. Dan aku, tak pernah menyela bicaranya, bukankah itu luarbiasa?
Katanya,
Apa manuver selanjutnya ibu pimpinan sidang? (menyindir) Apakah tidak sebaiknya kita putar kembali nalar dan berkeputusan ulang? Ini bukan hanya karena anti jadi pembicara termuda di agenda internasionalnya Al azhar minggu lalu atau karena IQ anti dua kali lipat dari kami disini kan?
Siapa juga orang yang mampu untuk tidak sombong. Empatbelas tahun dan hafidzoh, cumlaude di sidang fikrah dan punya orangtua yang bukan orang biasa. Ya, siapa juga yang mampu untuk tidak sombong. Paling dicintai sekaligus didengarkan kata-katanya. Siapa yang mampu untuk tidak sombong? Jadi adik kesayangan, selalu mampu mengulang notulensi dengan error yang paling minim di antara kami? Siapa yang mampu?
Abang kira orang sepertimu tidak mampu kan?
Sarkas. Beberapa wajah berpaling ke arah kami. Sembari katanya, "hmm, lagi dimarahin lagi,".
Jembatan, sandaran dan arahan. Masih tentang kesombongan dan pidato panjang lebar abangku satu-satunya.
Dalam beberapa kasus seorang muslim tidak perlu tahu banyak hal tentang keimanan. Untuk beriman. Lain kali, ia tak perlu tahu banyak fiqih untuk mengerti, tentang syar'i. Banyak orang yang tak banyak mengetahui agama, tapi membelanya. Bahkan Musa tak diperbolehkan bertanya, pada Harun gurunya. Bukankah itu istimewa?
Lalu kenapa seorang anak disini, berlagak tahu tentang segalanya? Bersikeras tahu sebelum memegangnya? Tidak ada lagikah nalar tsiqoh dalam Qur'an yang dihafalkannya?!
Nadanya meninggi dan aku pura-pura tak tahu ekspresi wajahnya. Menakutkan. Sebab orang seperti itu, ketika marah mengutip AlQur'an dan saat bernada tinggi, merendahkan orang dengan ruhiy, tanpa tendensi. Aku ingin jadi seperti abangku. Punya mental seperti itu, tulus dan tanpa topeng. Cerdas tanpa harus tes IQ per enam bulan. Kedua orangtuanya baik, setiap hari ada sarapan bersama dan gelak tawa penuh hikmah, keluarga.
Kesombongan itu membakar kayu sampai jadi debu. Hilang segala cerdas dan ketekunan.
Tidak perlu kemampuan unuk jadi sombong, cuma perlu sedikit hasutan setan, kepada orang yang dibutakan penglihatannya. Menolak kebenaran, merendahkan orang.
Terkadang melihat nyamuk sebagai belalai gajah atau leher jerapah. Kadang melihat kegagalan sebagai ketidakpatuhan orang.. Anti bukan tuhan.
Gila. Masih sakit hati sebenarnya. Tapi ingatan seperti ini mungkin hanya tiba-tiba ada di pagi ini. Gajah dan Jerapah. Itu bagian lucu. Aku tertawa kecil, meremehkan analoginya yang kacau. Ia juga berpaling ke belakang, mungkin tertawa juga. Tudingannya jadi semakin menusuk walaupun tidak menyakitkan.
Beberapa ustadz kami dan musyrifahku menganggap kami punya banyak kemiripan. Kecuali satu hal itu, miliknya, kekacauan analogi. Dan satu hal lagi, milikku, tingkah kekanakan. Gaya bahasa, intonasi suara, permainan logika, puisi favorit, model tulisan, kesukaan makanan, orientasi obrolan, pandangan shirah dan fikrah, hafalan, ibadah harian, persis. Kami selevel tapi bedanya, ia lebih tua 4 tahun. -.-"
Karena sombong itu berasal dari hati yang sakit. Tidak perlu banyak hal hebat untuk sombong, sekedar lupa bahwa adik akan terkalahkan dengan orang lain, bahwa setiap orang memiliki keistimewaan. Mungkin disanalah awal hasutan setan. Untuk mendengarkan, untuk tidak mengacuhkan. Bicaralah atau diam.
Suatu hari ketika saya tidak ada lagi, anti akan banyak terkalahkan, oleh kesombongan adik sendiri. Karena adik begitu rumit dan anti tidak mampu menganggap orang lain dengan lebih dan lebih lagi. Sebelum itu terjadi, mungkin ini terakhir kalinya ada nasehat seperti ini.
Karena itu memang nasehat terakhir. :)
Subscribe to:
Posts (Atom)