Friday, July 15, 2011

Frozen

Prosa kata berterbangan seketika. Katanya abstraksi jadi kokoh putih yang basi. Sekedar jadi asap tempat bilik api bersembunyi. Lalu yang ada hanya kerlingan matanya yang bersih, bening seadanya awan putih.
Sebarisan menjemput terik yang terpatri. Katanya konkritisasi cuma biasan ruang antara eksekusi dan polititasi. Sekedar jadi nyala nila di selusupan kulit gurita. Menggali kuburan sendiri, ailona kampus namanya!
Aih! Aku jijik luarbiasa. Bergidik ngeri di tepian lapangan birokrasi yang keji. Lautan hijau terpampang di jendela warna surga, mengajak pergi sebelum kembali. Sayangnya antrean tiket masuk bukan sekedar satu atau dua milyar rupiah, tapi 400 juta!
Gila, mulai tak bisa membedakan angka dua satu.

Thursday, July 14, 2011

Jatuh Cinta

Aku jatuh cinta
Di lembutan pematang sawah yang menghampar sejauh pandangan mata
Ketika lusuh di semai padi-padi bulir tampah
Lalu suara mesin menggiling menghamburkan dalam dilema kerja nelangsa

Hingga aku benar jatuh cinta
Dalam derunya
Di senja yang mengiring awan putih pergi
Seperginya ia tak kembali

Di pematang sawah, kulihat di kejauhan
Seperginya ia tak kembali
Sekedar ilalang yang merangkul ujung gaun putihnya
Terbang ke penghujungan saup mataku,

Tak tergapai cinta, telah jauh masa
Di pematang sawah

Tiba di serangkaian tatap bisu dan gelayut mata sayu
Tiba di sejurusan lambai tangan pasi yang menjauhi
Tiba di hatinya, tiba-tiba sunyi

Aku benar telah sungguh jatuh cinta
Sesungguh benarnya yang sesungguh-sungguhnya kebenaran itu

Mati suri
Ditinggal sejauh ia tak kembali
Di balik kuasa nelangsa mesin kerja
Di balik suara bulir tampah padi yang jatuh menyampah

Sunday, July 10, 2011

Paracetamol

Ceritanya, di bulatan pendar bulan setengah. Di tajuk rimbunan padang ilalang yang terbang.
Menyelinap di sejurusan ruang hitam antara ia dan tuhannya. Mata cahaya, mata-mataku.
Sekejap jadi separas indah di penghujung renungan ailona. Hantu kakinya, hantu-hantu menghantuiku.
Mengabarkan diri dalam asap putih, sejenak jadi garis khayal antara ia dan tuhannya. Langkah imajinya, langkah-langkah abu senduku.

Masih cerita di bulatan pendar bulan setengah. Satu dua mobil menjajaki abad dua satu, satu per satu tinggal satu dua.
Melintas di badan-badan jalanan yang mengurut perut. Tak ada istirahat, tak ada sempat, tak ada tempat.
Sebening uap noda di atas katun putihku. Tak ada noktah, tak ada arah, tanpa panah.
Menghalusinasi dalam ruang fana, direngkuh paksa. Antara ia dan tuhannya.

Disana.
Kekasih, dikasihinya kasih yang terkasih.
Kekasih, disambutnya thaghut yang menyalahi janji.
Kekasih, kasih rimbun di penghujung daun.
Jatuh gugur di saup embun yang jatuh turun.

Maka seharusnya kini cerita hanya tentang horison pagi. Nyalanya kutunggu di sepertiga malam putih.
Ketika Hudzaifah menyalamiku dalam dialog dustaku. Sanking inginnya kusaksikan sendiri. Ketika katanya ini dan itu.
Ya, Rabb. Aku telah jatuh hati pada bulat pendar bulan setengah. Lupa pada janji temaram yang menghunjam.
Biasannya menghantamku dengan lebatnya. Katanya ini dan itu, tepat di mata kepalaku.

Merengkuh ruang-ruang fana dalam ikatan jadi antara ia dan Rabbnya.

Kita telah sama tahu, bahwa saya dan anda sama-sama nyatanya. Bahwasanya yang saya lihat dan anda lihat, terpaksa ter-transformasi menjadi sebuah data yang sama berseru, "ada". Bahwasanya si manusia ini lagi-lagi berlagak jago dengan kegemarannya mendefinisi. Merengkuh ruang-ruang fana dalam ikatan jadi antara ia dan Rabbnya.

Terlepas dari sederetan mulut berbusa para golongan (yang dianggap) cendikia, muatan nyata dalam yang kita rasa dan kita lihat dalam segala pencapaian indera yang kita punyai telah menemui titik dogma perputarannya. Layaknya sayap kanan lalat yang mengandung racun dan sayap kirinya yang sarat antibiotik. Atau analogi abjad yang dengan perpaduan simbol dasarnya membuahkan biliyunan kata yang bahkan belum ada sejarah terkontemporer yang menyatakan seorang manusia mampu menghafal seluruhnya tanpa cacat. Eksistensi satuan dalam unitas universal bukanlah lagi bentangan yang diliput perdebatan.

Substan dan aksiden aristoteles adalah lapukan yang jadi gelembung putar soal keterbelakangan pra 21. Kita bicara tentang masa depan. Perspektif contstiuendumnya. PROGRESIF PROGRESITASNYA REK!

Imagine my imagination

Mira and imagination

Salahsatu obsesi konyol yang masih terpampang di layar otak gue sampai saat ini yaa... obsesi untuk jadi cowok. Bukannya dengan sengaja mendukung teori gila Freudian soal kecemburuan yang menjijikkan. Bukan juga mau sengaja-ngaja gaya-gayaan. Aaah.. mungkin gue cuma mau sedikit mengklarifikasi anggapan kebanyakan orang selama ini. Nggak semuluk itu juga, sih, ngebersihin fitnah di perspektif banyak makhluk tapi setidaknya, gue belajar wara' lah sama suasana hati.. haahaii (cielaah)

Sebenernya ini bukan cuma sekedar envy, bukan cuma sekedar dissappointed atau "nyeleneh gaya gue" tapi tigatiganyaa wkwk

Iri, soalnya mereka bisa isbal (gak beralasan) hahah... gatau, kayaknya keren aja trus.. bisa loncatloncatin pager tanpa risi disambitin orang sekampung.. trus bisa manjatmanjat pohon mangga tanpa harus mendengar keluhan para ibu-bapak "aiiihh anak gadis siapa itu?"
Gila, asik banget kan, bisa gaya isbal, gitu, sendal gunung meeen!!! kaos seadanya, gausah mandi seharian juga malah dianggap maskulin..!! bisa santai kayak di pantai asik kayak di tasik hidup gue kalo kayak gitu caranya, haha

Nyesel, dikit sih. Sebagai anak pertama dan... (--")
Yaaah.. gitu lah. Nyesel aja, kurang asik ah, pokoknya. Masa kepala keluarga sejak lahir harus dikepalai orang lain di masa mendatang. Waduuuh! apa kata dunia coba. Ini cuma sedikit aja. Berhubung gue masih beriman dikit, hahha, nyeselnya gak boleh banyak-banyak lah.

Nyeleneh gaya gue? Nah, ini nih. Emang dasarnya dasar e gak. Seorang gue salah banget kalo dibilang lurus-lurus aja hahaha. Nggak gitu juga sih. Gini gini gini. Ah, nggak usah deh yang ini. PARAH. Bukannya ngebersihin fitnah, malah nambah-nambahin lagi nanti. :D
Piis! Ntar laenkali,

Yaa.. itulah sedikit kegejean yang nggak layak masuk layar tabloid atau kotak koran. #Frustasi dikritik orang pers malang

Hahaha ;)

Wednesday, July 6, 2011

It just 'was' on past

I was me
Even some nonsense filled it pool by smelly naughty yogurt
I would never be hatred

Dividen

Sedikit ingin menggila dengan secercah perahan air jeruk nipis. Meniti asam manis. Asinan katanya. ah, aku tak mengerti
Bahwasanya sunah sejalan dengan metamorfosa majazi yang tak terjermahkan dalam bulir kata para penceramah. Atau ringkasan syarah para 'alim ulama'. Ah, aku gila. Mulai menggolak naik dalam perimbangan intuisi pribadiku, ini salah.

Mengapakah akhirnya mereka membunuh diri sendiri akibat dilematika dialektika sinaps pikirnya sendiri. Katanya itu mimpi. Katanya cuma sekedar bayang semu keterbatasan persepsi. Ah, luarbiasa. Perspektif persepsi memang terkadang sadis mengiris, perlahan dimatikannya doktrin satu tambah satu.

Maka kini aku ingin berdiam saja. Di selorok tulusku. Di pojokan ikhlasku. Di nafas terengah sebelum matiku. Menjadi seorang salaf yang berpakaian hitam-hitam. Atau meminta dinikahkan dengan salahsatu dari mereka saja. Agar jelas semuanya.