Kuliah saya agak berantakan.. Sangat berantakan mungkin... Haha. Hanya allah saja yang dapat menolong dan memperbaikinya. Subhanallah.
Thursday, May 30, 2013
Wednesday, May 29, 2013
Putih murmer
Putih murmer, bukan kata-kata yang tidak terjaga karena pudarnya. Bukan juga karena kesaksian bisu nyala-nyala lampuku. Aku sekedar, tahu saja, bahwa, kadang kita sekedar tahu. Seperti putih murmer.
Katanya rasanya enak, katanya sesekali aku bermain di lembutannya, seperti padang pasir, kadang, seperti rimba hutan, kadang, kadang-kadang juga seperti bicara pada butiran.
Sejak saat itu aku jadi suka warna putih, ada saja, putihnya, putih yang murmer. Bukan kue, bukan yang enak.
Itu kan anggapan orang saja. Padahal ia benda, padahal ia, sesuatu yang lain. Prestisius.
Katanya rasanya enak, katanya sesekali aku bermain di lembutannya, seperti padang pasir, kadang, seperti rimba hutan, kadang, kadang-kadang juga seperti bicara pada butiran.
Sejak saat itu aku jadi suka warna putih, ada saja, putihnya, putih yang murmer. Bukan kue, bukan yang enak.
Itu kan anggapan orang saja. Padahal ia benda, padahal ia, sesuatu yang lain. Prestisius.
Saturday, May 25, 2013
Berbeda
Perbedaan itu indah, saat ia tidak hanya memberikan seberkas warna tapi juga duri-duri yang berbeda
Dalam perbedaan, bunga-bunga masih sama punya wangi yang berbeda
Atau cahaya dari bahan bakar yang tidak sama
Suatu kali saya pernah kecewa pada perbedaan
Tapi kematangan diri dan kedewasaan adalah tuntutan kefaqihan, rupanya,
Ya, Allah, faghfirlanaa
Aamiin
Dalam perbedaan, bunga-bunga masih sama punya wangi yang berbeda
Atau cahaya dari bahan bakar yang tidak sama
Suatu kali saya pernah kecewa pada perbedaan
Tapi kematangan diri dan kedewasaan adalah tuntutan kefaqihan, rupanya,
Ya, Allah, faghfirlanaa
Aamiin
Friday, March 29, 2013
Bandung..
Tujuh gelombang demokrastisasi dunia pada perempat akhir abad 20
Thomas Carothers, The Ends Of The Transition Paradigm, Journal Of Democracy Vol 13 No 1 Yr 2002, The John Hopkins University Press :
1) the fall of right-wing authoritarian regimes in Southern Europe in the mid-1970s;
2) the replacement of military dictatorships by elected civilian governments across Latin America from the late 1970s through the late 1980s;
3) the decline of authoritarian rule in parts of East and South Asia starting in the mid-1980s;
4) the collapse of communist regimes in Eastern Europe at the end of the 1980s;
5) the breakup of the Soviet Union and the establishment of 15 post-Soviet republics in 1991;
6) the decline of one-party regimes in many parts of sub-Saharan Africa in the first half of the 1990s; and
7) a weak but recognizable liberalizing trend in some Middle Eastern countries in the 1990s.
-->
1) Jatuhnya tangan kanan rezim otoriter di Eropa Selatan dalam pertengahan 1970an
2) Pergantian diktator militer dengan pemerintahan melalui pemilihan sipil di sepanjang Amerika Latin mulai dari akhir 1970an sampai akhir 1980an
3) Penolakan terhadap UU otoritarian di bagian Timur dan Selatan Asia mulai pertengan 1980an
4) Runtuhnya rezim komunis di Eropa Timur di akhir 1980an
5) Hancurnya (retaknya) Uni Soviet dan pemapanan 15 republik pasca-Soviet pada 1991
6) Penolakan terhadap rezim satu partai di banyak bagian sub-saharan Afrika di awal pertengahan 1990an
7) lemah namun terterimanya tren liberalisasi di beberapa negara-negara Timur Tengah pada 1990an
Pemikiran mengenai demokrasi dalam pra wacana ilmiah telah dimulai dalam istilah-istilah kontrak sosial baik dalam tulisan Hobbes, Leviathan (1651), John Locke, Two Treaties Of Government (1690), dan Jacques Rosseau Du contract social ou Principes du droit politique (1762). Sementara dalam dinamika praktik ketatanegaraan kelahiran konstitusi civil people setidaknya termaktub dalam keberadaan Piagam Madinah (622 M), The Glorious Revolution (1688), dst..
Memulangkan kembali makna demokrasi kepada tribulasi dan peruntukan pewacanaannya maka yang kita dapatkan adalah suatu inkoherenitas faktual antara paham demokratisasi dan konstitusionalisme. Padanan demokrasi dan konstitusi utamanya berjalan di dua arah yang berbeda yang tidak harus tercitra dengan sempurna sebagaimana para ahli hukum tatanegara postmodernisme bercerita - bahwa demokrasi berisi supremasi konstitusi.
Thomas Carothers, The Ends Of The Transition Paradigm, Journal Of Democracy Vol 13 No 1 Yr 2002, The John Hopkins University Press :
1) the fall of right-wing authoritarian regimes in Southern Europe in the mid-1970s;
2) the replacement of military dictatorships by elected civilian governments across Latin America from the late 1970s through the late 1980s;
3) the decline of authoritarian rule in parts of East and South Asia starting in the mid-1980s;
4) the collapse of communist regimes in Eastern Europe at the end of the 1980s;
5) the breakup of the Soviet Union and the establishment of 15 post-Soviet republics in 1991;
6) the decline of one-party regimes in many parts of sub-Saharan Africa in the first half of the 1990s; and
7) a weak but recognizable liberalizing trend in some Middle Eastern countries in the 1990s.
-->
1) Jatuhnya tangan kanan rezim otoriter di Eropa Selatan dalam pertengahan 1970an
2) Pergantian diktator militer dengan pemerintahan melalui pemilihan sipil di sepanjang Amerika Latin mulai dari akhir 1970an sampai akhir 1980an
3) Penolakan terhadap UU otoritarian di bagian Timur dan Selatan Asia mulai pertengan 1980an
4) Runtuhnya rezim komunis di Eropa Timur di akhir 1980an
5) Hancurnya (retaknya) Uni Soviet dan pemapanan 15 republik pasca-Soviet pada 1991
6) Penolakan terhadap rezim satu partai di banyak bagian sub-saharan Afrika di awal pertengahan 1990an
7) lemah namun terterimanya tren liberalisasi di beberapa negara-negara Timur Tengah pada 1990an
Pemikiran mengenai demokrasi dalam pra wacana ilmiah telah dimulai dalam istilah-istilah kontrak sosial baik dalam tulisan Hobbes, Leviathan (1651), John Locke, Two Treaties Of Government (1690), dan Jacques Rosseau Du contract social ou Principes du droit politique (1762). Sementara dalam dinamika praktik ketatanegaraan kelahiran konstitusi civil people setidaknya termaktub dalam keberadaan Piagam Madinah (622 M), The Glorious Revolution (1688), dst..
Memulangkan kembali makna demokrasi kepada tribulasi dan peruntukan pewacanaannya maka yang kita dapatkan adalah suatu inkoherenitas faktual antara paham demokratisasi dan konstitusionalisme. Padanan demokrasi dan konstitusi utamanya berjalan di dua arah yang berbeda yang tidak harus tercitra dengan sempurna sebagaimana para ahli hukum tatanegara postmodernisme bercerita - bahwa demokrasi berisi supremasi konstitusi.
Bandung
keberadaan elite dalam setiap struktur kemasyarakatan adalah sebuah hal yang tidak dapat dipungkiri.. dalam setiap level kuasa, pengaturan, dan pembacaan peta posisi.. ketika disepakati konsep negara modern, konstitusional - demokratis.. setidaknya garis batas penyelenggaraan negara terdiri atas tiga hal : pembatasan dan pembagian kamar kekuasaan, jaminan ham, dan supremasi konstitusi.. *apaansih*
ini adalah segelintir garis yang membeku di otak saya, berkutat dengan 13 mosi yang masing-masing memiliki probabilitas 1 : (3 x 13) = 1/39..
derivasi teori elite --> interest, konflik dan social act
demokrasi perwakilan bukan-demokrasi-sesungguhnya (pseudemocracy)
ini adalah segelintir garis yang membeku di otak saya, berkutat dengan 13 mosi yang masing-masing memiliki probabilitas 1 : (3 x 13) = 1/39..
derivasi teori elite --> interest, konflik dan social act
demokrasi perwakilan bukan-demokrasi-sesungguhnya (pseudemocracy)
Tuesday, March 26, 2013
Judex Factie
Kusadari
bahwa ia, ternyata sebuah kebohongan yang akan mewujudkan dirinya dalam
kebohongan yang selanjutnya. Seterusnya seperti itu, sampai habis tersakiti,
menyakiti, mendapatkan adzab yang
sepantasnya. Bahwa itulah kerendahan sampai ke akar-akarnya. Bahwa itulah kehinaan
sampai ke ujung jari-jari kukunya. Tidak akan sudi menemuinya lagi.
Aku tak pernah tahu sebelumnya bahwa
perhubungan aku dan dirinya ternyata juga penuh dengan intrik. Bahwa ‘perspective’ itu secara massif juga
menjajari ketidakmampuanku dan ketidakmampuanmu menjadikan kenyataan sebagai
guru yang berharga. Bukan tentang masa lalu tentu saja. Bukan tentangmu juga.
Bahwa betapa ilusi itu jadi motion
kebohonganmu yang paling canggih. Aku sekedar. Terkesima saja.
Orang-orang berkata bahwa sebagian
dari orang-orang memang memiliki nasib yang menyedihkan, terpaksa kerdil karena
dirinya sendiri sebagai seseorang. Berkubang di noda lumpur dosa-dosanya
sendiri. Tenggelam, mati, lalu hidup kembali, mati lagi, hidup hati, dimatikan.
Orang-orang
yang seperti seseorang dari sebagian orang itu lalu seutuhnya memenuhi ritual
pribadinya terhadap penghambaan kepada keterpurukan. Sementara itu lupa,
sementara itu mencicipi sedikit dari yang selainnya. Memakan plafon dan dinding
kanan-kirinya. Dijilat, sedikit, sedikit, sampai tak mampu lagi. Keropos
gigi-gigi lalu benar-benar membeku jadi mumi. Diwariskan. Dilihat orang banyak,
ah, sayang sekali, kata mereka, orang-orang dari sebagiannya seseorang.
Aku tak berubah. Cuma baru tahu
sebuah kebohongan besar. Bahwa ikatan antara aku dan dirinya rupanya Cuma
sumbangsih perhelatan darah saja, bukan jiwa, bukan juga soal ini dan itu yang
patut jadi soal-soal ikatan orang-orang banyak. Benar-benar butuh kelapangan
hati.
Habis kata-kata. Habis bicaranya.
Habis nuansa. Habis percaya.
Bukan imannya, tapi, sekedar.
Sebentar saja. Menarik kembali tribulasi akaran perhubungannya. Tapi, sekedar.
Sebentar saja. Melihat bahwa, aku adalah putaran diriku, diikat kuat pada tali
yang amat kuat, bismillah. Dengan
begitu, sisi baiknya, aku benar-benar tak perlu kembali ke rumah. Lupakan.
Bukan tentangmu. Bukan tentang kau
dan aku. Bukan tentang aku. Bukan tentang kita tentu saja. Dia tentu saja,
sesuatu yang sengaja dikirimkan dalam tugas kebinasaan, sebagai cobaan, ujian, adzab disini. Sebab tak mungkin
kerendahan akhlaq jadi rumus kedua yang beda factorial kali ini. Bahwa,
sekedar. Mengilhami, bahwa, tak banyak yang bisa dilakukan manusia, bahwa, tak
patut mematutkan diri jadi sejati, bahwa, melaluinya dengan kepicikan. Lebih
‘arus utama’. Lebih ‘sempurna’. Lebih ‘aku’. Rancu.
Sakit
Sakitnya, menusuki jantung ini
Melawan cinta yang ada di hati
Dee Lestari
Sesuatu yang selalu hadir dalam hidup kita adalah cinta, katanya, baik kau sadari atau tidak. Sehingga setiap kejadian hari ini, besok, kemarin dan seterusnya hanyalah sebuah perjalanan cinta. Kolam besar itu, setiap peluh, sakit dan rasa muak. Adalah bagian dari cinta. KasihNya.
Sesekali saya tahu bahwa rahiim itu begitu rumit untuk kucecap. Begitu berliku untuk kusadari. Sebab jika ada dan tidaknya masuk dalam tataran keyakinan. Maka menyadarinya adalah sebuah ketenangan. Bahwa ikhtiarku adalah untuk menguatkan kesadaranku. Menguatkan keimananku.
Bahwa Allah tak pernah meninggalkanku.
Kadang menjadi menyakitkan. Kadang berubah jadi hantu yang mengusir kesederhanaan. Prosesi. Faktor faktual memenangkan diri.
Ya, Allah, aku sesederhana cita-citaku, menghadap kembali kepadaMu.
Melawan cinta yang ada di hati
Dee Lestari
Sesuatu yang selalu hadir dalam hidup kita adalah cinta, katanya, baik kau sadari atau tidak. Sehingga setiap kejadian hari ini, besok, kemarin dan seterusnya hanyalah sebuah perjalanan cinta. Kolam besar itu, setiap peluh, sakit dan rasa muak. Adalah bagian dari cinta. KasihNya.
Sesekali saya tahu bahwa rahiim itu begitu rumit untuk kucecap. Begitu berliku untuk kusadari. Sebab jika ada dan tidaknya masuk dalam tataran keyakinan. Maka menyadarinya adalah sebuah ketenangan. Bahwa ikhtiarku adalah untuk menguatkan kesadaranku. Menguatkan keimananku.
Bahwa Allah tak pernah meninggalkanku.
Kadang menjadi menyakitkan. Kadang berubah jadi hantu yang mengusir kesederhanaan. Prosesi. Faktor faktual memenangkan diri.
Ya, Allah, aku sesederhana cita-citaku, menghadap kembali kepadaMu.
Subscribe to:
Posts (Atom)

