Keberadaan beda dan sama masih terus menjadi diskursus filasafati setidaknya sampai Marx memunculkan filologi komunisnya. Definisi sama dan beda menjadi sebuah rangkai simpul yang paling diminati untuk terus diperbarui. Atas sebuah keputusan dalam kerangka marxis, ia menjadi definan dominan yang keberadaannya dapat diibaratkan sebagai sebuah pangkal batang utama. Sementara akar-akarannya yang menjalin simpangan itu, terus menerobos menjajari alam atheisme yang dalam.
Perbedaan dan kesamaan adalah sebuah kepingan dua sisi yang kemudian tak bisa dipisahkan each other. Sebab sejatinya sesuatu akan terdefinisi sebagai dirinya sendiri, sebuah manggis dalam sebuah keranjang manggis bersama manggis-manggis yang lainnya akan terus jadi dirinya, walaupun ia hanya terlihat sebagai 'segolongan' manggis. Seekor bebek diantara bebek lainnya yang diasuh tuannya, tetap jadi dirinya yang untitled walaupun iya hanya dikenali sebagai 'sekelompok' bebek.
Maka manggis meng-entitas jadi segolongan manggis dan bebek meng-entitas sebagai sekelompok bebek. Manggis manis? Manggis masam? bebek kampung? Dan selanjutnya, sekeranjang manggis yang ini jadi entitas manggis masam walaupun di dalamnya ada sebuah manggis yang manis. Ini entitas, maka ia tak terlihat
...flow down.. wait for a moment, I've got some bored area of me, this isnt as easy as i think
Wednesday, August 24, 2011
Derival
Entah, rasa-rasanya aku memulai irama baru tentang kecewaku. Yang hitam putih di kedip jalang mata-mata intan lautan. Yang hitam putih hanyut di paras lebah dan serangga. Dibawa terbang, terpaksa menyetujui dengan bau-bau tengik dilematika. Aku kecewa.
Memang kapan aku pernah bilang bahwa marah sama artinya dengan duka. Memang kapan tulisanku diikatkan dalam tali pintu-pintu rahiim antara aku dan kau. Bahwasanya duka cuma krisis kegilaanku atas pesona dunia. Bahwasanya ikatan tulisanku, dikaretkan dalam bulir getah lembayung pagi-pagi ini. Tak ada. Tak ada lembayung di pagi-pagi ini.
Lalu satu derival inginku, susah payah mengobati sayapnya sendiri. Kecewa ia dengan tangga-tangga integral kepunyaanmu. Satu derival inginku, beranak-pinak jadi krisan kecewa yang ranum pudar. Satu derival dari inginku, menggelesorkan sekujuran nadanya, basa-basi meminta peluh dari sedikit sinaran mentari pagi-pagi ini.
Yang tak ada lembayung.
Yang tak ada hitam putih di lembayung pagi-pagi hari.
Hingga sejatinya ingin hanyalah koneksi cepat antara aku dan ikatan karetku. Kembali ia, seketika karena cinta pada tuhanNya. Ah, bukan, bukan ia. Bukan ia secinta itu, tapi terlanjur besar rahiim tuhanNya memeluk. Terlanjur banyak dicintainya, terlanjur banyak diasingkannya.
Yang tak ada putih hitam lagi.
Di fajar sore hari yang menyela bila lembayungnya telah ada. Jadi nyala-nyala gulita yang tiada fana dan kecewanya lagi. Di sudut derival dalam nada-nada tangga integral ingin dan kuasaku. Aku telah masuk dalam pintu-pintu, pintu kemudi seketika itu.
-------------------------
Sekilas, aku ingat. Sesuatu yang sudah pernah kutuliskan disini. Sebuah episode paling kusukai yang disana ada Fathir Al Quraabid. Di atas ilalang terbang, penghujung jurang di subuh hari. Waktu tangannya menunjuk pelita matari yang perlahan naik, "Fajar!". Disebutnya masdar namaku dengan penuh kecintaan, ya, aku melayang ke angkasa. Sebegitukah fajar yang sesungguhnya?
Dan sekarang tinggal busa bagi bisa kebisaanku untuk terus menganggapnya seorang abid yang dulu.
Katanya, ini kecendrungan. Ini rahiim yang kemudian tak terurai atas definisi progresitas orientasi dan mimpi-mimpi yang muncul terbenam, naik-turun. Ini kecendrungan, ikatan yang bahkan tak mampu dikejar nuansa setia.
Katanya, al Kindi mengatakan bahwa saudaramu itulah dirimu, hanya beda jasad yang memisahkan jiwa-jiwa. Dinasehatinya aku, tapi kali itu tak seperti biasanya. Rasanya menusuk, tanpa senyum canda dan tawa-tawa konyol soal disorientasi kata dan pemaknaan. Aku terpana.
Ini kecendrungan, katanya. Ketika kemudian tak ada simpangan lain selain aku. Ini manis, kataku.
Lalu baginya sekarang zero juga. Bukan, bukan itu kan?
Memang kapan aku pernah bilang bahwa marah sama artinya dengan duka. Memang kapan tulisanku diikatkan dalam tali pintu-pintu rahiim antara aku dan kau. Bahwasanya duka cuma krisis kegilaanku atas pesona dunia. Bahwasanya ikatan tulisanku, dikaretkan dalam bulir getah lembayung pagi-pagi ini. Tak ada. Tak ada lembayung di pagi-pagi ini.
Lalu satu derival inginku, susah payah mengobati sayapnya sendiri. Kecewa ia dengan tangga-tangga integral kepunyaanmu. Satu derival inginku, beranak-pinak jadi krisan kecewa yang ranum pudar. Satu derival dari inginku, menggelesorkan sekujuran nadanya, basa-basi meminta peluh dari sedikit sinaran mentari pagi-pagi ini.
Yang tak ada lembayung.
Yang tak ada hitam putih di lembayung pagi-pagi hari.
Hingga sejatinya ingin hanyalah koneksi cepat antara aku dan ikatan karetku. Kembali ia, seketika karena cinta pada tuhanNya. Ah, bukan, bukan ia. Bukan ia secinta itu, tapi terlanjur besar rahiim tuhanNya memeluk. Terlanjur banyak dicintainya, terlanjur banyak diasingkannya.
Yang tak ada putih hitam lagi.
Di fajar sore hari yang menyela bila lembayungnya telah ada. Jadi nyala-nyala gulita yang tiada fana dan kecewanya lagi. Di sudut derival dalam nada-nada tangga integral ingin dan kuasaku. Aku telah masuk dalam pintu-pintu, pintu kemudi seketika itu.
-------------------------
Sekilas, aku ingat. Sesuatu yang sudah pernah kutuliskan disini. Sebuah episode paling kusukai yang disana ada Fathir Al Quraabid. Di atas ilalang terbang, penghujung jurang di subuh hari. Waktu tangannya menunjuk pelita matari yang perlahan naik, "Fajar!". Disebutnya masdar namaku dengan penuh kecintaan, ya, aku melayang ke angkasa. Sebegitukah fajar yang sesungguhnya?
Dan sekarang tinggal busa bagi bisa kebisaanku untuk terus menganggapnya seorang abid yang dulu.
Katanya, ini kecendrungan. Ini rahiim yang kemudian tak terurai atas definisi progresitas orientasi dan mimpi-mimpi yang muncul terbenam, naik-turun. Ini kecendrungan, ikatan yang bahkan tak mampu dikejar nuansa setia.
Katanya, al Kindi mengatakan bahwa saudaramu itulah dirimu, hanya beda jasad yang memisahkan jiwa-jiwa. Dinasehatinya aku, tapi kali itu tak seperti biasanya. Rasanya menusuk, tanpa senyum canda dan tawa-tawa konyol soal disorientasi kata dan pemaknaan. Aku terpana.
Ini kecendrungan, katanya. Ketika kemudian tak ada simpangan lain selain aku. Ini manis, kataku.
Lalu baginya sekarang zero juga. Bukan, bukan itu kan?
Monday, August 22, 2011
Jembatan
Ilalangnya menari di angkasa. Sebatas mimpiku berarak menuju ke surga fana, surganya dunia yang semata-mata ada. Ilalangnya di angkasa, sebarisan kata melukiskan kenangannya pada warna-warna yang berbaur jadi sebarisan logika. Logika yang membelakangi angka-angka. Angka-angka cerita, bilangan tahun dan tanggal-tanggal yang tersisa dari lembutan aral yang tersingkirkan dari dilematika fatamorgana.
Ia tak ingin terjembatani dirinya. Sebersihnya nada-nada yang memutus tali sengketa dari suara. Setulusnya rancu berpisah dari senjang moral yang berbahasa sama. Selepas bergetarnya pesona yang tak terangkaikan dari cabang-cabangnya. Mozaik yang kehabisan perekat ajaibnya. Tak tergambarkan, jadi kisah di puisi-puisi imajinatif yang jauh dari kerangka ingin tuan-tuan sekalian. Mati suri, ingin hidup sekali lagi
Ia tak ingin terjembatani dirinya. Sebersihnya nada-nada yang memutus tali sengketa dari suara. Setulusnya rancu berpisah dari senjang moral yang berbahasa sama. Selepas bergetarnya pesona yang tak terangkaikan dari cabang-cabangnya. Mozaik yang kehabisan perekat ajaibnya. Tak tergambarkan, jadi kisah di puisi-puisi imajinatif yang jauh dari kerangka ingin tuan-tuan sekalian. Mati suri, ingin hidup sekali lagi
Monday, August 15, 2011
Wowowow :D
Gue nemu ikhwan keren! Ceritanya, seperti biasa, garagara sumpek di rumah, gue jalan jalan kan keliling Jakarta naik busway. Wah, ini sebenernya agak kacau juga, berhubung, mengandung radioaktif negatif yang bisa bikin pamor gue turun. Haha, peduli apa dengan pamor.
Yah, yah, yah, ini mungkin terakhir kalinya gue geje gitu naek busway turun-naik shelter dan bolakbalik ngasi smile klise ke abang-abang yang di pintu shelter. Ya, Allah.. haha subhanallah dunia dengan dengan segala hiasannya yang baka maupun sekedar abata.
Oke, oke, balik lagi soal ikhwan keren.
Gue ketemu dia pas lagi di salemba, sampe harmoni, ni anak masi terlihat kacau sih, dengan aura ikhwan yang tidak nampak samasekali. Pake jeans gitu, gak isbal lagi, #seakan penting bgt haha
Ya.. gitudah, kayak orang biasa yang nggak tersibghah 'tarbiyah'. wokwowok.
Kaosan, dan pake sepatu gaol banget gitu lagi, (ngalahin sepatu butut gue yang gak pernah dicuci sejak beli). Wewew metal!
Sejenak gue ngeliat ni anak, agak berasa envy juga sih, kan gue udah bilang kalo dia sebagai orang yang mungkin tidak tersentuh yang kayak menyentuh gue (*apaan deh), itu keren banget, trus ditelpon belagak sibuk gitu, "iya, ini gue masi di busway bawel banget si lo.." ahaha sumpah! kalimat "bawel banget si lo" tu udah gue idamidamkan mau gue luncurkan pada saat yang tepat pada orang paling tepat (membetekannya) ntar.. dan ternyata, dia udah ngeduluin ahahaa (*gak mutu banget ni tulisan)
Pas di kalibata, garagar dia turun, gue ikutan turun ae. Turun ke basement, ni orang masi keren, apalagi waktu sambil turun tangga masang earphone. Berhubung kalo gue kayak gitu bisa berabe banget, ahahhaa, jilbab gue lebih dari selembar --".
Adooooh ni anak masi asoy boy.
Gue belajar kan gimana caranya bisa punya aura dan penampakan sekeren itu hahahaa (*kalimat gak mutu :P)
Wew! dan pada akhirnya, ini bagian paling seru, gue masi ngikutin dia kan. Daaan pokoknya singkat cerita, akhirnya setelah naek metromini duakali yang cukup jauh, naik satu mikrolet kecil juga *kalo gak salainget. Gue dan dia sampe di salasatu se-ting negeri. Huuuumm ternyata gue udah di bintaro --". Perasaan waktu gue kesini, buat silaturahmi (*ke siapa gitu lupa) itutuh jauuuuuuuuuuuuuuh banget dari cawang, tapi entah, perjalanan kali ini pokonya seru karena dibarengi "keberhasilan" nguntilin orang. ahahahhaaa
Gue jadi berasa shinichi kudo gitu kan. wohohooo
Ini, nih. INI. INI. INIIIIIIIIII. YANG GILA.
TU BOCAH MASUK SEKRET - YANG SAYANGNYA GUE LUPA APAAN NAMANYA -,-.
dan disana...
"ahlan wa sahlan akhi.." toeng!
dan parahnya..
"DIA NGISI MATERI: MIHWAR DAKWAH"
Pawawwaawww ckck! semoga lainkali gue dapet gelegar kayak gini lagi kalo menguntit di lain hari hehehehheheee
Subhanallah akh! hoo
Belakangan gue tau kalo dia.. mmm.. ya.. setaraf tetuatetua di UB juga. Mmmmm aiih terklesima gue, don't judge kader by its cover lah.. hahahha
Yah, yah, yah, ini mungkin terakhir kalinya gue geje gitu naek busway turun-naik shelter dan bolakbalik ngasi smile klise ke abang-abang yang di pintu shelter. Ya, Allah.. haha subhanallah dunia dengan dengan segala hiasannya yang baka maupun sekedar abata.
Oke, oke, balik lagi soal ikhwan keren.
Gue ketemu dia pas lagi di salemba, sampe harmoni, ni anak masi terlihat kacau sih, dengan aura ikhwan yang tidak nampak samasekali. Pake jeans gitu, gak isbal lagi, #seakan penting bgt haha
Ya.. gitudah, kayak orang biasa yang nggak tersibghah 'tarbiyah'. wokwowok.
Kaosan, dan pake sepatu gaol banget gitu lagi, (ngalahin sepatu butut gue yang gak pernah dicuci sejak beli). Wewew metal!
Sejenak gue ngeliat ni anak, agak berasa envy juga sih, kan gue udah bilang kalo dia sebagai orang yang mungkin tidak tersentuh yang kayak menyentuh gue (*apaan deh), itu keren banget, trus ditelpon belagak sibuk gitu, "iya, ini gue masi di busway bawel banget si lo.." ahaha sumpah! kalimat "bawel banget si lo" tu udah gue idamidamkan mau gue luncurkan pada saat yang tepat pada orang paling tepat (membetekannya) ntar.. dan ternyata, dia udah ngeduluin ahahaa (*gak mutu banget ni tulisan)
Pas di kalibata, garagar dia turun, gue ikutan turun ae. Turun ke basement, ni orang masi keren, apalagi waktu sambil turun tangga masang earphone. Berhubung kalo gue kayak gitu bisa berabe banget, ahahhaa, jilbab gue lebih dari selembar --".
Adooooh ni anak masi asoy boy.
Gue belajar kan gimana caranya bisa punya aura dan penampakan sekeren itu hahahaa (*kalimat gak mutu :P)
Wew! dan pada akhirnya, ini bagian paling seru, gue masi ngikutin dia kan. Daaan pokoknya singkat cerita, akhirnya setelah naek metromini duakali yang cukup jauh, naik satu mikrolet kecil juga *kalo gak salainget. Gue dan dia sampe di salasatu se-ting negeri. Huuuumm ternyata gue udah di bintaro --". Perasaan waktu gue kesini, buat silaturahmi (*ke siapa gitu lupa) itutuh jauuuuuuuuuuuuuuh banget dari cawang, tapi entah, perjalanan kali ini pokonya seru karena dibarengi "keberhasilan" nguntilin orang. ahahahhaaa
Gue jadi berasa shinichi kudo gitu kan. wohohooo
Ini, nih. INI. INI. INIIIIIIIIII. YANG GILA.
TU BOCAH MASUK SEKRET - YANG SAYANGNYA GUE LUPA APAAN NAMANYA -,-.
dan disana...
"ahlan wa sahlan akhi.." toeng!
dan parahnya..
"DIA NGISI MATERI: MIHWAR DAKWAH"
Pawawwaawww ckck! semoga lainkali gue dapet gelegar kayak gini lagi kalo menguntit di lain hari hehehehheheee
Subhanallah akh! hoo
Belakangan gue tau kalo dia.. mmm.. ya.. setaraf tetuatetua di UB juga. Mmmmm aiih terklesima gue, don't judge kader by its cover lah.. hahahha
Friday, August 12, 2011
Listening
Ya, Rabb, aku terkesan akan sebuah makna ketakutan. Biar, biar saja hilang hafalanku jika itu bukti dosa-dosa selama itu. Ya, Rabb, aku benar tersudut dalam ruang ketakutan. Dimakan hati kecilku sendiri. Biar-biar saja hilang hafalanku agar kelak Kau sempurnakan aku sebagai bidadari surgaMu. Rabb, biar-biar saja hilang hafalanku.
Ikhlasku, tak dapat lagi membayar besar maksiatku. Ikhlasku, tak dapat lagi dijarah untuk menembus dialektika waktu-waktu. KIni cuma ketakutan bila tak terbayar angkuhku. Ya, Rabb, sungguh hanya iman itu sajalah yang masih menolongku.
Biar-biar saja hilang hafalanku.
Ikhlasku, tak dapat lagi membayar besar maksiatku. Ikhlasku, tak dapat lagi dijarah untuk menembus dialektika waktu-waktu. KIni cuma ketakutan bila tak terbayar angkuhku. Ya, Rabb, sungguh hanya iman itu sajalah yang masih menolongku.
Biar-biar saja hilang hafalanku.
Jam
Satu jam, dua jam, atau tiga jam.
Satu dua tiga jam.
Satunya dua tiga jam.
Satu satu dua tiga jam.
Yang tiga dua jam jadi satu satu.
Atau dua tiga jamnya satu.
Tiga jam dua satu jam-jam.
Jamnya satu dua tiga.
Satu dua tiga jam.
Satunya dua tiga jam.
Satu satu dua tiga jam.
Yang tiga dua jam jadi satu satu.
Atau dua tiga jamnya satu.
Tiga jam dua satu jam-jam.
Jamnya satu dua tiga.
Thursday, August 11, 2011
The more-less
Never give up! I just counting my own hair.
This is one, two, three and four, and more.
And more. And more.
I just can't listen the hair singing. While the sounds changing like a bowling pool at all. This aim. The more four.
Never smile in! We just already going on the morning and bleeding the part of aim.
We just a blood and part of our. The more of four.
This is one, two, three and four, and more.
And more. And more.
I just can't listen the hair singing. While the sounds changing like a bowling pool at all. This aim. The more four.
Never smile in! We just already going on the morning and bleeding the part of aim.
We just a blood and part of our. The more of four.
Subscribe to:
Posts (Atom)